Harga Minyak Naik, Perbankan Waspadai Kredit Macet

Harga Minyak Naik, Perbankan Waspadai Kredit Macet

- detikFinance
Kamis, 24 Sep 2009 14:15 WIB
Harga Minyak Naik, Perbankan Waspadai Kredit Macet
Jakarta - Harga minyak dunia yang mulai meningkat hingga US$ 71 per barel dan disinyalir akan terus naik di 2010 akan berdampak kepada industri perbankan nasional, terutama pada rasio kredit bermasalah (NPL) yang naik serta penyaluran kredit akan terganggu.

Demikian dikatakan oleh pengamat ekonomi dan moneter Purbaya Yudhisadewa melalui pesan singkatnya kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (24/09/2009).

"Seandainya jika harga minyak memang naik tinggi, dampaknya terhadap sistem perbankan kita akan amat ditentukan oleh kebijakan pemerintah sendiri," ujar Purbaya.

Ia mengatakan, bila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, maka inflasi akan meningkat.

"Bank Indonesia pun akan segera menaikkan suku bunga lagi. Kenaikannya akan ditentukan oleh berapa inflasi yang terjadi. Bila kenaikan BBM-nya terlalu tinggi hingga inflasi yang terjadi tinggi pula, maka kenaikan BI Rate akan tinggi juga," paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Purbaya, hal ini yang akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. "Akibatnya NPL pun akan cenderung naik dan penyaluran kredit akan terganggu. Tapi, selama harga BBM bersubsidi tidak naik, maka dampak terhadap NPL tidak akan signifikan," tegasnya.

Dikatakan Purbaya, harga minyak tidak akan naik terlalu signifikan dalam satu tahun ke depan. Biasanya setelah bubble harga minyak pecah, harga minyak cenderung untuk bertahan pada tingkat yang relatif rendah untuk waktu yang juga agak lama.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Risk Management Bank Mandiri, Sentot A sentausa menjelaskan kenaikan harga minyak yang diprediksi terjadi di awal tahun 2010 memang akan mempengaruhi modal kerja atau biaya operasional debitur.

"Jadi kemampuan debitur bayar angsuran akan menjadi fokus utama Mandiri atau kita akan tetap menjaga NPL di tahun depan," jelasnya ketika ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta.

Untuk pengucuran kredit, Sentot mengungkapkan kredit yang sudah pipeline secara bertahap akan tetap dikucurkan. "Namun hanya akan disesuaikan dengan kondisi awal tahun nanti," pungkasnya.

(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads