Kejar Kredit 20%, Intermediasi Perbankan dan Situasi Politik Harus Dibenahi

Kejar Kredit 20%, Intermediasi Perbankan dan Situasi Politik Harus Dibenahi

- detikFinance
Sabtu, 21 Nov 2009 13:46 WIB
Kejar Kredit 20%, Intermediasi Perbankan dan Situasi Politik Harus Dibenahi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit bisa diatas 20% tahun 2010, hal tersebut dinilai cukup realistis dan valid jika dilihat dengan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 5,5% di tahun depan.

Namun, pertumbuhan kredit tersebut tidak akan mencapai target jika fungsi intermediasi perbankan tidak dibenahi, ditambah situasi politik yang belum kondusif juga akan mengakibatkan sulitnya kredit untuk tumbuh besar.

Ekonom Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, jika bank sentral ingin mencapai target, maka fokus utamanya yakni membenahi fungsi intermediasi perbankan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"BI harus benahi fungsi intermediasi perbankan lebih dulu. Dalam jangka pendek ini, sebaiknya BI fokus untuk menurunkan suku bunga pinjaman (suku bunga kredit)," ujarnya ketika dihubungi detikFinance di Jakarta, Sabtu (21/10/2009).

Saat ini, penurunan suku bunga kredit perbankan memang menunjukan penurunan namun hanya sedikit. Bunga kredit bank pada triwulan-III-2009 secara rata-rata hanya turun 0,69 poin menjadi 15,13% dari posisi pada kuartal II-2009 yang jumlahnya adalah 15,82%.

Purbaya mengatakan, jika perbankan belum juga menurunkan suku bunga kreditnya, maka kredit akan susah tumbuh. "Bahkan jika trend pertumbuhan kredit yang turun seperti tahun 2009 ini terus berlangsung. Maka pertengahan tahun depan pertumbuhan kredit bisa jatuh kepada titik nol," tuturnya.

Fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan dana simpanan masyarakat, menurut Purbaya dalam satu tahun ini memasuki trend penurunan. "Ini berarti fungsi bank sebagai intermediasi masih terganggu, dan memang disebabkan oleh suku bunga kredit yang sulit turun. Terbukti dari pertumbuhan kredit yang sudah jatuh dibawah 10%," paparnya.

Sehingga, lanjut Purbaya akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terganggu. "Selain mendorong pertumbuhan kredit, BI sebagai regulator juga harus bisa mendorong perbankan untuk menyalurkan lagi kreditnya," katanya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Mirza Adityaswara mengatakan bahwa asumsi BI yang menargetkan pertumbuhan kredit diatas 20% cukup valid.

"Jika dalam situasi normal tidak ada gejolak pasar keuangan dan gejolak politik serta dengan acuan BI-Rate 6,5% sampai 7,5% pertumbuhan kredit diatas 20% cukup masuk akal," ujarnya dalam pesan singkatnya.

Tetapi menurut Mirza, hal tersebut harus didukung dengan situasi politik yang kondusif. "Sayangnya saat ini situasi politik kembali memanas, sehingga bisa saja para pengusaha yang semula sudah positif menjadi agak ragu-ragu dalam melakukan ekspansi usaha," katanya.

Sebelumnya Pjs Gubernur BI Darmin Nasution menargetkan, pertumbuhan kredit di 2010 bisa lebih dari 20%, dengan semakin membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi tahun depan.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads