Data Pertumbuhan Ekonomi AS Mengecewakan, Dolar Tersungkur

Data Pertumbuhan Ekonomi AS Mengecewakan, Dolar Tersungkur

- detikFinance
Jumat, 30 Apr 2004 12:02 WIB
Jakarta - Ekonomi AS pada kuartal pertama tahun 2004 tumbuh 4,2 persen atau berarti meleset dari perkiraan banyak orang yang memperkirakan pertumbuhan mencapai 5 persen. Sementara angka inflasi juga menunjukkan kenaikan yang terlihat dari indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi yang naik 3,2 persen dibandingkan sebelumnya yang hanya 1 persen dan core PCE indeks yang naik 2 persen dari sebelumnya hanya 1,2 persen.Menanggapi angka yang dinilai analis mengecewakan ini, dolar AS langsung jatuh. Euro langsung melonjak pada posisi 1,1936 dibandingkan penutupan sebelumnya pada 1,1838. Sementara dolar berada pada 109,9 Yen dibandingkan sebelumnya pada 110,05 Yen.Demikian juga bursa AS langsung berjatuhan seperti Dow Jones Industrial Average turun 0,68 percent pada level 10.272,27 dan Nasdaq turun 1.55 percent pada 1.958,78."AS kemungkinan akan mempunyai masalah dalam menarik arus masuk portfolio dan ini salah satu alasan mengapa dolar dalam tekanan," kata Ian Stannard, currency strategist BNP Paribas seperti dilansir AFP. Namun demikian sejumlah angka juga menunjukkan perbaikan diantaranya belanja konsumen naik 3,8 persen, pengeluaran pemerintah dan investasi naik 10,1 persen, penjualan akhir yang merupakan besaran kunci dari permintaan dalam ekonomi mencapai 3,9 persen. Investasi bisnis sebesar 7,2 persen.Untuk belanja peralatan dan software naik 11,5 persen. Investasi rumah naik 2,1 persen namun pengeluaran di bidang struktur seperti perkebunan turun 6,5 persen. Sementara ekspor turun tipis yakni hanya tumbuh 3,2 persn dibandingkan dengan booming pada kuartal terakhir tahun 2003 lalu yang tumbuh sebesar 20,5 persen. Sementara impor naik 2 persen. Sejumlah kalangan berharap dengan keluarnya besaran-besaran yang dinilai mengecewakan ini akan semakin memantapkan langkah The Fed untuk kembali menaikkan tingkat suku bunganya."Untuk The Fed, ini merupakan alasan tambahan untuk mengingatkan perlunya kenaikan tingkat suku bunga. Ini kemungkinan akan terealisasi pada Juni atau paling tidak pada Agustus," kata Moody's Investors Service chief economist John Lonski. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads