"Anda bayangkan sejak 2002 sukuk yang diterbitkan koporasi, hingga sekarang saja sukuk korporasi baru mencapai Rp 7 triliun. Jadi antusiasme masyarakat terhadap sukuk ini memang besar sekali," ungkap Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Dahlan Siamat usai menghadiri acara seminar Sukuk Negara Goes to Campus di Gedung Magister Manajemen, Kampus UI Salemba, Jakarta, Rabu (7/4/2010).
Untuk lebih mengembangkan ekonomi syariah di tanah air, Dahlan berharap akan ada penambahan jumlah bank syariah di Indonesia. Sebab saat ini jumlah bank syariah di Indonesia baru 8 buah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosialisasi ke Kampus
Untuk lebih memperkenalkan sukuk ke masyarakat, Kementerian Keuangan melakukan kegiatan sosialisasi dilakukan di Fakultas Ekonomi UI dengan tema Sukuk Goes To Campus.
"Sosialisasi ini merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan di kampus," ujar Dahlan.
Pemilihan kampus sebagai sarana sosialisasi sukuk, menurut Dahlan, karena kampus merupakan tempat strategis untuk menyebarkan informasi konsep-konsep keuangan syariah termasuk sukuk.
"Setelah mengetahui konsepnya, kami harapkan para dosen dan mahasiswa bisa menyebarkan ini ke masyarakat," ungkapnya.
Sebagai tuan rumah, Dekan FEUI Firmanzah menyambut baik dilaksanakannya seminar ini. Menurut dia, kehadiran seminar ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai perkembangan sukuk di Indonesia.
Terlebih selama ini perekonomian yang berbau syariah identik dengan kalangan dan agama tertentu. Padahal saat ini pusat-pusat ekonomi syariah tidak hanya didominasi oleh negara-negara islam.
"Contohnya Inggris yang saat ini menjadi salah satu pusat ekonomi syariah di dunia. Banyak ekonom di negara-negara lain yang belajar ekonomi syariah di sana," kata Dekan FEUI, Firmanzah dalam sambutannya.
Di Indonesia sendiri, lanjut dia, keberadaan ekonomi syariah masih kurang dekat dengan masyarakat Indonesia. Padahal ekonomi syariah termasuk sukuk saat ini sudah mulai dilirik sebagai instrumen pembiayaan alternatif untuk pembiayaan pembangunan di tanah air.
"Kemampuan APBN untuk menjadi motor infrastruktur kan terbatas, maka dicari alternatif pembiayaan lain misalnya dengan menerbitkan sukuk. Sehingga potensi sukuk syariah begitu besar," paparnya.
(epi/dnl)











































