"Sementara kredit ritel sebesar Rp 100 triliun, menengah Rp 40 triliun, dan korporasi Rp 39 triliun," ujar Direktur UMKM BRI Bambang Soepeno usai acara penandatangan fasilitas kredit antara BRI dan Asosiasi Pemboran Minyak, Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI) di Hotel Grand Melia, Jakarta, Kamis (17/6/2010).
Bambang menyatakan, BUMN Bank tersebut memang lebih fokus dalam menyalurkan kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dibandingkan untuk korporasi. Di mana dari porsi kredit yang ada, 80%nya akan dialokasikan kredit untuk UMKM, sisanya korporasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, untuk memperluas basis nasabahnya, mulai hari ini BRI melayani kebutuhan layanan perbankan anggota APMI, melalui dilaksanakannya Memorandum of Understanding (MoU) fasilitas kredit.
Dengan ditandatangainnya MoU ini, Bank BRI memberikan komitmen untuk melayani kebutuhan kredit modal kerja, kredit investasi, bank garansi, SKBDN, Letter of Credit, kartu kredit maupun layanan giro bagi para anggota APMI.
"Pagu kredit yang akan disalurkan masih akan didiskusikan dengan Tito karena kebutuhan riil di lapangan masih belum diketahui. Namun untuk sektor ritel dan menengah plafon Rp 5-50 miliar per nasabah. Berapapun yang dibutuhkan, BRI fleksibel saja," jelasnya.
Dengan jaringan distribusi yang menjangkau hingga ke pelosok desa dengan lebih dari 70 ribu karyawan, serta 6.600 kantor cabang yang online, BRI diharapkan mampu memenuhi kebutuhan semua anggota APMI.
Sementara itu, Ketua Umum APMI Tito Kurniadi menyatakan kehadiran MoU ini diharapkan dapat memecahkan masalah kesulitan mencari pendanaan unuk sektor pengeboran di tanah air, yang pada tahun ini ditargetkan mencapai 200-300 sumur.
"Pada anggota APMI pada intinya berharap kecepatan pendanaan dari BRI kepada kegiatan anggota APMI," ungkap Tito.
(epi/dnl)











































