"Bank Indonesia sudah banyak mengatur mekanisme intervensi moneter secara lengkap. Jangan diatur secara rinci lagi mengenai suku bunga kredit," ujar Ketua Perbanas Sigit Pramono usai seminar tentang jasa keuangan di Hotel Le-Meridien, Sudirman, Jakarta, Rabu (14/07/2010).
Sigit mengatakan, bank sentral harus memahami terlebih dahulu mengenai persoalan mengapa bunga bank saat ini cenderung lambat penurunanya. "Apa sih penyebabnya? kan harus diketahui terlebih dahulu intinya dipahami dahulu persoalannya," kata Sigit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, lanjut Sigit, yang harus diperhatikan adalah biaya overhead cost. "Kedua faktor utama tersebut tidak akan bisa diganggu. Tidak bisa diturunkan begitu saja. Belum juga memasukan margin keuntungan bank dan premi risiko jadi rumit," ungkapnya.
Lebih lanjut Sigit menjelaskan, pada dasarnya suku bunga kredit yang masih tinggi hanya di beberapa sektor saja.
"Misalnya sektor investasi karena memang risikonya tinggi jadi premi risikonya juga tinggi. Tapi jika suku bunga kredit sektor telekomunikasi atau industri makanan dan minuman pasti sangat bersaing," jelasnya. Jadi, sambung Sigit, bank sentral harusnya lebih mengerti keadaan dan kondisi perbankan saat ini.
"Jangan semata-mata untuk mendorong kredit tumbuh, suku bunga juga ikut dipaksa diturunkan," tukasnya.
Seperti diketahui, Bank sentral berencana untuk membuat aturan baru agar bank-bank dapat menurunkan suku bunganya. Pasalnya, BI merasa 'gerah' karena ketika suku bunga acuan (BI Rate) telah ditahan selama satu tahun di posisi 6,5%, namun suku bunga kredit perbankan masih tinggi.
(dru/dnl)











































