Β
Demikian disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Dradjad Wibowo kepada detikFinance, Kamis (5/8/2010).
Β
"Jadi manfaatnya memang lebih praktis, lebih nyaman, dan lebih bergengsi. Kalau US$ 1 hanya Rp 9, kesannya mata uang tersebut kuat. Selain praktis untuk sektor keuangan, bagi sektor jasa juga praktis. Misalnya penulisan di menu restoran lebih mudah," tuturnya.
Β
Dradjad mengatakan, nominal rupiah yang sudah terlalu besar saat ini memberikan efek terutama pada transaksi yang melibatkan valuta asing.
Β
"Kuotasi rupiah terhadap dolar AS dan euro, bisa sampai 4-5 desimal di belakang koma. Jadi tidak praktis dan tidak nyaman," katanya.
Β
"Nominal yang besar itu mencitrakan mata uang yang tidak stabil. Agak kurang bergengsi," imbuhnya.
Β
Akan tetapi, lanjut Dradjad, manfaat redenominasi bagi pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas ekonomi tidak banyak.
"Malah ada inflasi karena perubahan desimal. Harga Rp 5.950, tidak ditulis Rp 5,95 tapi Rp 6," tambah Dradjad.
Β
Selain itu, redenominasi ini akan memunculkan biaya tambahan untuk pencetakan uang kertas dan uang logam baru, yang biayanya cukup mahal.
Β
"Jadi redenominasi ini hanya kebutuhan sekunder, bukan primer," tambahnya.
Seperti diketahui, Bank Indonesia kini sedang menggodok redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang. Redenominasi ini berbeda dengan sanering yang merupakan perubahan nominal namun ada perubahan nilainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(dnl/qom)











































