Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (22/9/2010).
"Dari analisa yang kita lakukan ketidakpastian itu masih ada di AS meskipun dari analisa ada kekhawatiran akan munculnya double deep, dan double deep itu akan hilang, lebih kecil dari perkiraan yang ada," tutur Hartadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor kita dipengaruhi negara regional dan tidak tergantung AS dan Eropa khususnya setelah resesi. Jadi sekarang itu tidak perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan bukan AS, tapi China dan India," ucap Hartadi.
Hartadi mengatakan, membaiknya ekonomi AS akan membuat arus modal asing ke Indonesia sedikit berkurang dibanding periode-periode sebelumnya. Meskipun masih akan ada aliran dana asing yang masuk.
Turunnya arus dana asing ini akan membuat nilai tukar rupiah ke depan sedikit melemah. Namun Hartadi tidak mau menjelaskan berapa besar pelemahan rupiah akan terjadi.
(dnl/qom)











































