BRI pun berupaya mengejar target pertumbuhan kredit dengan mencairkan porsi kredit 'nganggur' atau undisbursed loan agar kredit dapat mencapai 20% di akhir 2010.
Demikian diungkapkan oleh Direktur BRI Sulaiman Arif Ariyanto dalam paparan kinerja Triwulan III-2010 BRI di Kantor Pusat BRI, Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (29/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BRI memang mencatat pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari target industri perbankan yang dipatok 22%-24%. Menurut Sulaiman portofolio kredit BRI per September 2010 mencapai Rp 36,46 triliun atau meningkat dari Rp 192,23 triliun di September 2009 menjadi Rp 228,69 triliun pada September 2010.
"Tetapi NPL tetap ditekan hingga menjadi 4,28%. Kedepan kita optimis kredit akan tumbuh melalui pencairan undisbursed loan," ungkapnya.
Ia mengatakan, rasio undisbursed loan BRI memang cukup tinggi namun hal tersebut akan dicairkan seluruhnya sampai akhir tahun 2010.
"Dengan adanya pencairan kredit maka BRI akan mencatat pertumbuhan kredit hingga 20% bahkan bisa lebih," jelasnya.
Selain pencairan undisbursed loan, BRI tetap fokus untuk melakukan pembiayaan di sektor Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurut Sulaiman, KUR BRI merupakan yang terbesar kontribusinya dibandingkan bank lain dimana mencapai 72,4%.
"Sampai triwulan III-2010 penyaluran KUR telah mencapai Rp 18,7 triliun kepada 3,2 juta debitur," katanya.
Hal itu menurut Sulaiman, akan menaikkan posisi outstanding KUR sampai 2010 sebesar Rp 6,58 triliun dengan total nasabah 1.268.227 orang.
(dru/qom)











































