Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Budi Rochadi di sela Munas VIII Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Senin (8/11/2010).
"BI siap laporkan redenominasi ke Presiden akhir November. Jadi studinya sudah berjalan dan akhir November sudah bisa kita laporkan ke Presiden. Jadi langsung ke Presiden, karena yang punya negara ini Presiden," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sekarang ini masih menunggu waktu dari Presiden, karena sekarang lagi banyak bencana. Jadi tunggu kesiapan suasananya dulu, tunggu suasana tenang. Kami harapkan tahun ini bisa segera dibahas bersama Presiden selaku pemimpin negara," kata Budi.
Selain ke Presiden, Budi mengatakan, BI juga akan melaporkan hasil kajian redenominasi rupiah ini ke DPR tahun ini. Karena redenominasi ini akan berhubungan dengan rakyat banyak.
Seperti diketahui, BI akan melakukan redenominasi rupiah karena uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong.
Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.
BI akan mulai melakukan sosialisasi redenominasi hingga 2012 dan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru. Redenominasi diharapkan bisa tuntas pada tahun 2022.
(dnl/qom)











































