LPS: Penurunan Penjaminan Dana Nasabah Tinggal Tunggu Waktu

LPS: Penurunan Penjaminan Dana Nasabah Tinggal Tunggu Waktu

- detikFinance
Rabu, 26 Jan 2011 14:55 WIB
LPS: Penurunan Penjaminan Dana Nasabah Tinggal Tunggu Waktu
Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengungkapkan pemerintah tengah mencari waktu yang tepat untuk menurunkan nilai penjaminan dana nasabah perbankan yang saat ini sebesar Rp 2 miliar. Hal ini didasari karena kondisi stabilitas ekonomi Indonesia yang kian membaik pasca dampak krisis global tahun 2008 lalu.

Demikian diungkapkan oleh Kepala LPS Firdaus Djaelani dalam Media Gathering dengan media di Gedung Equity Tower, Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (26/1/2011).

"Saat ini pemerintah masih mencari waktu yang tepat dan memang dari sisi perekonomian sudah sangat berbeda dari tahun 2008 pada bulan November lalu yang hampir terjadi krisis," ujar Firdaus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya memang yang bisa mengubah skema penjaminan adalah pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam hal ini, LPS akan diminta input ataupun masukan kepada pemerintah.

"Nilai penjaminan terakhir itu Rp 2 miliar memang diubah dari Rp 100 juta pada tahun 2008 lalu. Dan itu bersifat temporary oleh karena itu kita telah memberikan masukan kepada pemerintah dan akan diadakan seminar khusus mengenai penjaminan dana nasabah di bank," ungkapnya.

Lebih jauh Firdaus juga mengatakan sama halnya dengan negara-negara di kawasan Asia seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong yang tadinya menetapkan blanket guarantee alias penjaminan penuh. "Pada 1 Januari 2011 negara-negara tersebut akhirnya telah mengubah skema penjaminan menjadi terbatas secara bertahap," jelasnya.

Di tempat yang sama Anggota Dewan Komisioner LPS, Mirza Adityaswara menuturkan kondisi yang terjadi di tingkat domestik sendiri memang sudah bisa dibilang lepas dari krisis.

"Kalau dilihat sekarang ini atau selama 2010 dan apa yang sedang terjadi indikator data-data menunjukkan kita sudah tidak krisis. Bahkan cadangan devisa itu mendekat US$ 97 miliar dan bisa tembus US$ 113 miliar di akhir 2011," katanya.

Mirza menambahkan, kalau melihat neraca perdagangan dimana pos neraca berjalan itu masih juga menunjukkan surplus serta situasi makro stabil. Tantangan kedepan, lanjut Mirza hanyalah inflasi tetapi sejauh ini tingkat inflasi juga masih bisa dikatakan terkendali.

(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads