BI Tegur 4 Bank yang Ikut Jadi Spekulan di Pasar Valas
Rabu, 12 Mei 2004 11:20 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengungkapkan, pihaknya telah memberikan teguran kepada empat bank karena memanfaatkan situasi menguatnya dolar AS dengan cara meminjam di pasar uang untuk membeli dolar AS dan mentransfernya ke luar negeri, sehingga mengakibatkan rupiah makin terperosok."Saya tidak suka langkah-langklah bank seperti itu karena menunjukkan bahwa mereka di Indonesia tidak konsern dengan masyarakat tempat mereka duduk di sini," tegas Burhan dalam seminar mengenai Arsitektur Perbankan Indonesia (API) di Pusdiklat BRI Jl. Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, (12/5/2004).Burhan menjelaskan, terhadap melemahnya rupiah saat ini BI telah melakukan berbagai langkah untuk meredamnya. Namun diakui, upaya BI itu sedikit mengalami hambatan karena ada pihak-pihak yang mengail di air keruh.Burhan lalu mengungkapkan, adanya 2-4 bank yang melakukan tindakan meminjam di pasar uang membeli dolar AS dan kemudian mentransfernya ke luar negeri. Namun Burhan menolak menyebutkan bank bersangkutan, termasuk apakah bank itu bank lokal atau asing."Upaya spakulasi ini yang saya dan kita semua tidak suka," tegasnya.Terkait dengan melemahnya rupiah, Burhan mengatakan, ada hubungannya dengan ekspektasi pelaku pasar yang berlebihan terhadap kemungkinan dinaikkannya suku bunga oleh the Fed."Ekspektasi ini telah mendorong berbagai pihak untuk melepas aset-aset non dolar AS dan beralih ke dolar AS," ungkap dia.BI, menurut dia, juga mengamati modal dalam jangka pendek milik pemain asing yang biasanya dijaga pada kisaran 600 juta dolar AS, pada jumat pekan lalu tinggal 140 juta dolar AS."Dan, saya yakin sekali pada Senin kemarin sudah habis, artinya sudah ke luar dari Indonesia," kata dia.Namun Burhan yakin hal ini merupakan satu gejala temporer karena pengaruh ekspektasi kenaikan suku bunga dan juga spekulasi oleh pelaku pasar. Pasalnya, secara fundamental ekonomi tidak ada perubahan yang mendasar, di mana kegiatan ekonomi masyarakat tetap berjalan seperti biasa.Misalnya ekspor yang masih bisa terpenuhi dan inflasi di level yang bisa diterima BI, yakni 5-6%, sehingga dari sisi kebijakan BI belum melihat pentingnya mengubah arah kebijakan secara drastis.
(mi/)











































