Demikian diungkapkan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah kepada detikFinance melalui surat elektroniknya di Jakarta, Senin (7/3/2011).
"Pada pekan laporan, DPK perbankan mengalami penurunan namun lebih kecil dibandingkan pekan sebelumnya yakni sebesar Rp 4,95 triliun. Penurunan DPK disebabkan oleh DPK rupiah turun Rp 8,02 triliun sedangkan DPK valas naik Rp 3,07 triliun," ujar Difi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian, selama tahun 2011 (year to date) DPK perbankan masih tercatat mengalami penurunan sebesar Rp 68,68 triliun atau sebesar 2,94%, sedangkan secara tahunan (year on year) tetap naik sebesar Rp 343,15 triliun atau sebesar 17,83%," ujarnya.
Dihubungi secara terpisah, Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Wimboh Santoso mengungkapkan penurunan DPK di awal tahun pasti terjadi dikarenakan adanya pembayaran pajak.
"Selain pembayaran pajak, dropping dana dari pemerintah pusat belum masuk ke bank sehingga DPK masih turun," jelas Wimboh.
Dikatakan Wimboh, dari sisi intermediasi atau pertumbuhan kredit perbankan sudah mulai menunjukkan peningkatan. Menurutnya, 'January effect' alias perlambatan kredit di setiap Januari yang menjadi tren sudah mulai hilang.
Dalam laporannya, Difi mencatat hasil pantauan BI, stabilitas sistem keuangan sampai dengan minggu ke-4 Februari 2011 masih terjaga baik, ditengah adanya ekspektasi tekanan inflasi global karena tingginya harga minyak.
"Stabilitas pasar tersebut didukung oleh masih berlanjutnya penanaman asing pada aset keuangan rupiah, sementara kegiatan intermediasi perbankan kembali meningkat dengan kecukupan likuiditas yang masih memadai," papar Difi.
Penyaluran kredit perbankan terus bertambah sebesar Rp 10,98 triliun menjadi Rp 1.754,93 triliun, selama pekan terakhir Februari 2011.
Menurutnya, kenaikan kredit tersebut didorong oleh kenaikan kredit rupiah maupun valas masing-masing sebesar Rp 8,36 triliun dan Rp 2,53 triliun.
"Kredit rupiah naik pada 4 kelompok bank yaitu bank Swasta, Persero, bank asing dan BPD dimana tertinggi pada kelompok bank Swasta sebesar Rp 4,55 triliun. Sedangkan kelompok bank Campuran mengalami penurunan sebesar Rp 0,01 triliun," terang Difi.
Β
Kondisi yang hampir sama terjadi pada kredit valas, Difi mengatakan kredit turun di kelompok bank Campuran sebesar Rp 0,85 triliun).
Sedangkan kredit di 3 kelompok Bank yaitu bank Swasta, Persero, dan bank asing mengalami peningkatan. Sementara itu, kredit valas di BPD tidak mengalami perubahan.
(dru/dnl)











































