BII Pertimbangkan Turunkan Target Kreditnya

BII Pertimbangkan Turunkan Target Kreditnya

- detikFinance
Senin, 14 Jun 2004 14:44 WIB
Jakarta - Managing Director Bank International Indonesia (BII) Dira K. Mochtar mengungkapkan manajemen BII mempertimbangkan untuk menurunkan target kreditnya mengingat kondisi sektoril yang belum memungkinkan, ditambah situasi politik yang membuat dunia usaha wait and see. Oleh karenanya BII berupaya meningkatkan kredit konsumsinya dibanding kredit korporasi. Saat ini komposisi kredit untuk korporasi mencapai 43 persen. Sedangkan kredit komersial 30 persen dan sisanya kredit konsumsi. Untuk itu hingga akhir tahun ini kredit konsumsi, khususnya untuk kendaraan bermotor bisa naik hingga 60 persen. "Kalau dilihat perkembangan 6 bulan terakhir hingga Mei lalu pertumbuhan kredit konsumen cukup besar. Kalau dicek di bank-bank lain, trendnya juga sama. Pertumbuhan kredit ini didukung kredit kendaraan," kata Dira di Jakarta, Senin (14/6/2004). Untuk itu, lanjut dia, manajemen BII akan menekan pertumbuhan kredit korporat yang mencapai 43 persen dan lebih fokus pada kredit konsumer, komersial sehingga perbandingannya nanti 50:50.Diakui DIra, manajemen BII akan membahas target kredit terkait dengan revisi. Namun berapa penurunan target pertumbuhan kredit dibandingkan tahun lalu, dia mengaku belum tahu. "Terus terang kita belum tahu. Kita masih lihat kondisi pasar regional, sejauh mana mereka bisa memproyeksikan hingga akhir tahun. Diharapkan kita bisa dapat 80 persen dari original target kita. Jadi turunnya antara 10-20 persen, tapi kita lihat kondisi pasar dulu," ujar dia. Dari pihak bank tak ada masalah dengan penyaluran kredit. Namun daya serap sektoril saat ini masih sangat terbatas dibandingkan tahun lalu yang cukup tinggi. Akibatnya dana yang disiapkan perbankan tak terpakai. "Situasi politik juga membuat wait and see. Bank juga berhati-hati karena ada gunjang-ganjing rupiah. Untuk itu kita harus lihat industri mana yang tak terpengaruh," kata DIra sambil menambahkan akhir Juni penyaluran kredit bisa mencapai Rp 13 triliun dibanding tahun lalu yang hanya Rp 10,5 triliun. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads