Asosiasi Debt Collector: Badan Kami Hitam, Tapi Hati Kami Tidak

Asosiasi Debt Collector: Badan Kami Hitam, Tapi Hati Kami Tidak

- detikFinance
Senin, 02 Mei 2011 17:15 WIB
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Jasa Penagihan Indonesia (AJAPI) Manihar Silaban mengakui debt collector alias penagih utang identik dengan sosok berwajah garang, badan besar dan berkulit hitam. Namun bos debt collector ini meyakini walaupun bertampang sangar, hati debt collector tetap baik.

"Kalau kulit hitam badan gemuk itu memang seperti itu. Debt collector semua hitam karena kami dilapangan, kalau badan kami gemuk tetapi hati kami tidak jelek," ujar Manihar dalam sebuah seminar nasional bertemakan 'Masih Perlukah Penggunaan Debt Collector?' di Hotel Nikko, Sudirman, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Manihar mengungkapkan banyak sekali bahkan memang sebagian besar debt collector itu mempunyai niat yang baik. Justru, Manihar mengatakan lebih banyak nasabah yang 'nakal'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak kok debt collector baik, tetapi ingat banyak nasabah nakal jadi kita mesti lurus berpikir ini," tambahnya.

Ia menegaskan sebagai pekerja jasa penagihan maka anggotanya harus patuh pada hukum dan mengindahkan pasal penganiayaan. Menurutnya selama ini profesi jasa penagih selalu mengedepankan agar tidak ada pelanggaran hukum, tidak ada pelanggaran kode etik dan kepatutan.

"Kami tidak mengatakan selalu dipihak yang benar tetapi jika seluruhnya kita diam saja hanya menagih ya tidak akan pernah ada berbayar," katanya.

Manihar menegaskan, anggotanya tak mengedepankan kekerasan dalam proses penagihan apalagi berniat menghilangkan nyawa orang lain. Saat ini, banyak ratusan perusahaan jasa penagih di Jabodetabek yang bekerja secara resmi.

"Kami tidak pernah menagih kalau misalkan mereka tidak bayar kami bunuh tidak seperti itu. Kurang lebih saat ini ada 100 agensi debt collector di Jabotabek yang resmi dengan bank," katanya.

Seperti diketahui, penggunaan debt collector kini sedang menjadi sorotan menyusul tewasnya nasabah Citibank, Irzen Octa ketika sedang dalam proses mempertanyakan utangnya. Irzen diketahui tewas setelah meminta keterangan dari pihak debt collector untuk mempertanyakan tunggakan kartu kreditnya yang membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads