Cegah Aksi Borong, BUMN Atur Pembelian Valas
Jumat, 18 Jun 2004 12:44 WIB
Jakarta - Menneg BUMN Laksamana Sukardi mengatakan BUMN-BUMN akan segera mengatur manajemen pembelian dolar sehubungan dengan terus melemahnya rupiah dan juga kebutuhan yang tinggi akibat kenaikan harga minyak. Langkah ini dilakukan agar menghilangkan kesan BUMN berspekulasi memborong dolar."Harga minyak kan naik sampai US$ 42 per barel dari US$ 22. Jangan bilang BUMN berspekulasi memborong, itu tidak benar dan tidak boleh. Kita sekarang akan mengatur manajemen pembelian dengan dicicil harian," kata Laksamana di Jakarta, Jumat (18/6/2004).Dijelaskan, kebutuhan yang tinggi terhadap dolar AS karena BUMN memiliki kewajiban yang rutin untuk membayar utang dan impor, seperti Pertamina atau PLN yang harus membayar listrik swasta. "Jadi ini bukan memborong karena memang BUMN memiliki kewajiban membayar utang dan impor yang rutin. Pertamina saja membutuhkan US$ 800 juta per bulan," tukasnya. Laksamana menegaskan BUMN harus siap mengubah rencana proyeksi keuangannya sehubungan dengan ketidakpastian di dunia. "Ini memang diluar kemampuan kita untuk mengatur harga minyak. Tapi angka US$ 42 hanya sementara, sekarang kan sudah turun dan APBN sudah disesuaikan. Memang kita harus siap mengubah rencana proyeksi," katanya. Namun demikian, lanjut Laks, ada juga BUMN yang diuntungkan akibat melemahnya rupiah, seperti PGN dan Angkasa Pura."Jadi ada yang pemasukannya dan pengeluarannya dolar. Ini yang kita manage dalam hal foreign exchange management. Dan kita akan koordinasi dengan BI," kata Laks. Dia juga yakin ketidakpastian tidak mempengaruhi target privatisasi karena sudah diamanatkan APBN. "Target tahun ini kan hanya Rp 5 triliun. Kita kan sudah diperintahakan APBN, ya kita lakukan tapi tidak sembarangan," kata Laksamana Sukardi.
(nit/)











































