Bank Indonesia (BI) menilai kasus fraud terkenal seperti Barings Bank dan kasus pemalsuan laporan keuangan seperti yang terjadi pada Enron Corporation, perusahaan energi Amerika ternyata mirip seperti kasus yang terjadi di Indonesia.
Bank sentral menilai kasus Barings Bank dan Enron yang sempat menggemparkan industri keuangan global terjadi akibat lemahnya Good Corporate Governance (GCG).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barings Bank merupakan salah satu bank tertua di London, Inggris. Namun bank tersebut akhirnya kolaps pada tahun 1995, setelah menderita kerugian hingga US$ 1,3 miliar akibat investasi spekulatif yang dilakukan karyawannya pada kontrak berjangka.
Dijelaskan Halim, kasus Barings Bank itu terjadi karena tidak adanya pembagian tanggung jawab yang merata lemahnya pengawasan internal dan kurangnya pengawasan top manajemen.
"Kalau mengikuti kasus yang terjadi di Indonesia kasus tersebut juga terjadi di Indonesia. Di Indonesia sedikit banyak yang terjadi adalah belum dilakukannya pelaksanaannya SOP dan pengawasan internal secara baik. Selain itu kurangnya pengawasan puncak atau top manajemen," papar Halim.
Kalaupun saja, lanjut Halim pengawasan puncak sudah dilakukan namun tidak jarang prosedur yang sifatnya umum dan sederhana justru banyak ditemukan tidak dilaksanakan secara reguler.
Ditempat yang sama, Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Indonesia (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan pada intinya bank juga menjadi korban kejahatan akibat sebuah sindikat.
"Kalau sudah berbentuk sindikat itu susah. Kejahatan kerah putih yang melibatkan sindikat dan orang dalam," ujar Sigit.
Β
Dijelaskan Sigit, kasus yang lalu harus membuat industri perbankan dapat melihat memang banyak terdapat kekurangan. "Tetapi yang harus diwaspadai sindikat yang begitu tekun membina orang dalam lalu minta tolong. Pengawasan paling awal dan komisaris ada early warning system yang jalan. Karena sindikat sangat pandai memainkan sisi psikologis pegawai bank dalam melakukan modus operandi," papar Komisaris BCA ini.
Enron Corporation adalah sebuah perusahaan energi Amerika yang berbasis di Houston, Texas, Amerika Serikat. Enron menjadi sorotan masyarakat luas pada akhir 2001, ketika terungkapkan laporan keuangannya ternyata terdapat unsur penipuan akuntansi yang sistematis, terlembaga, dan direncanakan secara kreatif.
Sementara di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir diguncang oleh berbagai kasus pembobolan seperti di Citibank dan Bank Mega. Dana nasabah Citibank dibobol oleh mantan relationship managernya, Malinda Dee plus adanya kasus meninggalnya nasabah, Irzen Octa yang diduga akibat kesalahan debt collector. Kasus lain adalah pembobolan di Bank Mega yang dilakukan oleh salah satu kepala cabangnya, bekerjasama dengan pihak luar.
BI telah menjatuhkan sanksi kepada 2 bank tersebut, termasuk memerintahkan uji kepatutan dan kelayakan ulang terhadap para pejabat di kedua bank tersebut.
(dru/qom)











































