Menurut Head of Corporate Communication Bank Muamalat Meitra N Sari, memang ada wacana untuk jual beli saham di tingkat para pemegang saham, namun manajemen tidak ambil bagian dalam rencana tersebut karena sifatnya hanya menjalankan perusahaan.
"Memang ada wacana jual beli saham di tingkat pemegang saham, itu biasa. Tapi untuk siapa yang jual, siapa yang beli belum sampai ke sana," katanya ketika dihubungi detikFinance, Kamis (23/6/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelum-sebelumnya kan ada katanya Stanchart lah, OCBC lah, tapi kalau Chairul Tanjung saya baru dengar," ungkapnya.
Nino menjelaskan, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Muamalat terakhir yang digelar tanggal 26 Mei 2011 lalu, tidak ada agenda untuk penjualan saham yang disampaikan pemegang saham kepada manajemen.
"Dalam RUPS terakhir tidak ada agenda jual saham. Tapi kalau memang ada itu di tingkat pemegang saham. Kalau manejemen kan berpatokan untuk fokus di peningkatan kinerja saja," katanya.
Ibarat mobil, kata Nino, manajemen hanya supir yang diminta menjalankan mobil oleh si empunya kendaraan. Jadi, tidak terlalu menjadi masalah mengenai identitas si pemilik mobil.
"Tapi kalau pemiliknya ganti, tetap arah Bank Muamalat tidak akan berganti untuk di jalur syariah," ujarnya.
Seperti diketahui sebelumnya, beredar kabar adanya rencana akuisisi Bank Muamalat oleh Standard Chartered Bank melalui bank afiliasinya. Bank Indonesia (BI) selaku regulator pun sudah mengendus rencana tersebut.
Namun, manajemen membantah kabar tersebut karena pada RUPS terakhir tidak ada agenda mengenai penjualan saham tersebut.
(ang/hen)











































