Industri Asuransi Jaman Sekarang Butuh Modal Gede

Industri Asuransi Jaman Sekarang Butuh Modal Gede

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2011 09:48 WIB
Industri Asuransi Jaman Sekarang Butuh Modal Gede
Jakarta -

Pemenuhan modal minimum pada industri asuransi penting, tidak hanya berfungsi mengendalikan risiko, namun juga menghidupi perusahaan melalui promosi-promosi yang dilakukan. Jika uang saja cekak, bagaimana dapat bersaing dengan perusahaan asuransi asing saat dibukanya masyarakat ekonomi ASEAN?

Hal ini diutarakan Pengamat Asuransi, Munir Sjamsoeddin di Hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (6/7/2011) malam.

"Modal harus gede untuk tampung risiko. Juga promosi harus terus dilakukan kan. Harus realistis, karena ujung-ujungnya uang," ucapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan permodalan yang terjaga, perusahaan asuransi juga dapat membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) mereka. Terlebih saat Indonesia masuk dalam masyarakat ekonomi ASEAN di 2015, dan persaingan menjadi terbuka, pelaku industri harus berbenah.

"Dengan ada kepemilikan asing dan masyarakat ekonomi ASEAN, akan ada free flow anything. Dengan pemikiran sederhana, enggak bisa dengan modal cekak. Harus besar," tegasnya.

Terlebih, menurut Munir, industri asuransi saat ini masih tidak efisien. "Ada sekitar 90 asuransi umum yang masih inefisiensi. Memang kita tumbuh 7%, namun yang paling bertambah adalah asuransi di kendaraan," paparnya.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Kornelius Simanjuntak menambahkan, pemenuhan permodalan minimum menjadi harga mati. Penjadwalan ulang dalam pemenuhan modal oleh Bapepam-LK pun harus dimanfaatkan oleh pelaku industri asuransi sebaik mungkin.

"Dari asosiasi sejak awal memang mengatakan, kita harus manfaatkan rescheduling ini. Dan tidak ada penawaran lagi. Tugas kami di 2012 untuk mendorong anggota dan mengingatkan, waktu akan cepat tiba. Kita syukur, pemerintah sangat bijak dalam penjadwalan ulang ketentuan permodalan. Yang di 2014 menjadi Rp 100 miliar. Jika waktu itu, di 2008 modal harus Rp 100 miliar, maka 60 perusahaan asuransi akan tutup," tegas Kornelius.

Di sisi lain, dengan rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya asuransi, ia menyarankan perlu ada edukasi sejak dini. Asosiasi bersama Dewan Asuransi Indonesia sedang mengkaji pengenalan asuransi, dengan melibatkan industri.

"Kalau sebenarnya, asuransi bisa diperkenalkan sejak dini dalam pendidikan, tingkat dasar atau tingkat pertama, maka akan sangat berbeda," ungkapnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads