Honda Rugi Pertama Kali dalam 70 Tahun Gara-gara Trump

Honda Rugi Pertama Kali dalam 70 Tahun Gara-gara Trump

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 16 Mei 2026 18:15 WIB
Logo Honda.
Ilustrasi/Foto: Doc. Newsbytes
Jakarta -

Produsen otomotif ternama asal Jepang, Honda pertama kalinya dalam 70 tahun terakhir mencatatkan kerugian untuk tahun fiskal 2025. Kondisi ini dikarenakan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melonggarkan aturan emisi kendaraan.

Dikutip dari CNN, Sabtu (16/5/2026), pada awalnya banyak perusahaan otomotif di AS yang melakukan investasi besar-besaran untuk mengembangkan kendaraan listrik alias electric vehicle (EV).

Langkah ini dilakukan seiring pengetatan aturan emisi karbon kendaraan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Bersamaan dengan itu, pemerintah AS juga sempat memberikan kredit pajak hingga US$ 7.500 atau Rp 131.970.000 (kurs Rp 17.596) untuk pembeli kendaraan listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Batalkan Aturan

Pemerintahan Trump malah membatalkan peraturan emisi yang lebih ketat yang diberlakukan oleh pemerintahan Biden dan menghapus sanksi finansial bagi produsen mobil jika mereka melanggar kebijakan tersebut.

ADVERTISEMENT

Alhasil, perubahan kebijakan tersebut membuat para produsen mobil termasuk Honda kembali memfokuskan perhatian mereka pada penjualan truk dan SUV besar bertenaga bensin, yang merupakan sumber keuntungan terbesar mereka.

Masalahnya, di saat yang bersamaan pergeseran ini merugikan para produsen mobil yang sudah mengeluarkan modal besar untuk mengembangkan EV, dan kini terpaksa kembali menurunkan total nilai investasi kendaraan ramah lingkungan.

Honda Rugi

Sebagai salah satu korban perubahan kebijakan emisi karbon kendaraan, Honda untuk pertama kalinya sejak 1955 melaporkan kerugian laba sebesar 1,6 triliun yen atau hampir US$ 10 miliar (Rp 175,96 triliun) untuk tahun fiskal 2025.

Bersamaan dengan itu Honda juga mencatatkan potensi keuntungan sebesar US$ 7,4 miliar untuk tahun tersebut, sehingga perusahaan mencatatkan kerugian bersih sebesar 403,3 miliar yen atau sekitar US$ 2,6 miliar (Rp 45,74 triliun).

"Honda juga mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan ada penurunan nilai tambahan pada investasi kendaraan listrik sebelumnya di tahun fiskal berjalan, meskipun tidak cukup untuk menyebabkan kerugian lagi," jelas laporan tersebut.

Produsen Otomotif AS Banyak yang Rugi

Selain Honda, General Motors (GM) juga mencatatkan kerugian yang cukup besar sepanjang tahun 2025. Produsen otomotif ternama asal AS itu melaporkan kerugian sebesar US$ 7,2 miliar karena pengurangan upaya pengembangan kendaraan listrik.

Masih belum cukup, produsen otomotif ternama lain seperti Ford mengumumkan kerugian US$ 17,4 miliar untuk periode yang sama. Kemudian Stellantis yang memproduksi mobil di Amerika Utara dengan merek Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler, melaporkan kerugian sebesar 25,4 miliar euro atau US$ 29,7 miliar.

Dengan kerugian yang dideritanya, beruntung GM masih mampu mencatatkan laba bersih untuk periode tersebut. Namun, imbas perubahan kebijakan emisi pada pemerintahan Trump telah menyebabkan Ford dan Stellantis mencatatkan kerugian bersih pada 2025.

"Namun, para produsen mobil belum sepenuhnya meninggalkan rencana kendaraan listrik. Masih ada peraturan emisi yang lebih ketat yang akan diberlakukan di Eropa dan Asia, dan mungkin di sejumlah negara bagian AS," terang laporan tersebut.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads