BI Temukan 57.380 Lembar Uang Palsu Dalam 5 Bulan

BI Temukan 57.380 Lembar Uang Palsu Dalam 5 Bulan

- detikFinance
Kamis, 28 Jul 2011 12:51 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan selama lima bulan pertama di 2011 telah ditemukan uang palsu sebanyak 57.380 lembar. Dari angka tersebut, bank sentral menyimpulkan telah terjadi penurunan peredaran uang palsu menjadi hanya 6 lembar dari 1 juta bilyet uang asli dari periode yang sama di 2010 yang sebanyak 7 lembar dari satu juta lembar uang beredar.

"Sampai Mei ditemukan 57.380 lembar uang palsu atau 6 lembar per 1 juta lembar. Itu year on year dalam lima bulan turun dari 2010 sebanyak 70.104 lembar uang palsu atau 7 lembar per 1 juta lembar," kata Direktur Direktorat Peredaran Uang (DPU) BI Mokhammad Dahlan dalam Konferensi Persnya di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (28/7/2011).

Menurutnya, dari seluruh uang palsu hasil temuan, tercatat sebanyak 33.272 lembar atau sebesar 57,99% merupakan pecahan Rp 100.000, dan sebanyak 20.217 lembar atau sebesar 35,23% adalah pecahan Rp 50.000.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk pecahan-pecahan yang lain relatif kecil. Jadi hanya dua pecahan itu yang banyak, Rp 100.000 dan Rp 50.000," kata Dahlan.

Adapun untuk peredaran uang palsu tersebut, sebagian besar ditemukan di wilayah Pulau Jawa, utamanya di daerah Jawa Timur. Sementara untuk luar Pulau Jawa relatif jauh lebih sedikit.

"Dari data sampai Mei 2011, itu penemuan peredaran uang palsu di wilayah Sumatera Utara hanya sebanyak 91 lembar, wilayah Lampung sebanyak 3.500 lembar, Yogyakarta tidak ada, Sulawesi Utara sebanyak 34 lembar, Nusa Tenggara Barat 250 lembar, dan terbanyak di Jawa Timur mencapai 22.426 lembar," paparnya.

Sebagai perbandingan, lanjutnya, selama tahun 2010 peredaran uang palsu di wilayah DKI Jakarta dan Banten mencapai 48.844 lembar, sementara di wilayah Jawa Tengah tercatat sebanyak 77.903 lembar.

Masyarakat Diminta Tukar Uang di BI atau Bank

Pada kesempatan yang sama Deputi Gubernur Bank Indonesia Ardhayadi Mitroadmodjo meminta seluruh masyarakat yang ingin menukarkan uang pecahan kecil menyambut Lebaran untuk berhati-hati. Bank sentral tidak menjamin seluruh uang yang ditukarkan oleh masyarakat yang bukan melalui bank dan Kantor Bank Indonesia (KBI) dipastikan asli.

"Jadi kalau tukar di orang yang sering menawarkan uang baru itu harus hati-hati karena bisa diselipkan uang palsu. Berbeda dengan di bank yang sudah dipastikan asli semua apalagi yang dari BI langsung jadi lebih baik jangan di orang-orang itu," kata Ardhayadi.

Dijelaskan Ardhayadi tren peredaran uang palsu memang terus menurun tapi ada baiknya masyarakat berhati-hati dalam mendapatkan uang yang bukan dari bank langsung. Ardhayadi meminta masyarakat memperhatikan ciri keaslian uang rupiah dengan mekanisme 3D yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

"Sampai saat ini, pola 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) masih menjadi cara ampuh untuk mengetahu keaslian uang kertas yang beredar. Pola ini pernah disebarluaskan melalui iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh Bank Indonesia," jelasnya.
(dru/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads