Hal ini diperlukan untuk menghadapi 'jajahan' asing di sektor jasa keuangan perbankan.
"Kalau kita lihat persentasi pelayanan bank itu, Indonesia dibandingkan dengan bank lain itu paling rendah artinya apa? Ruang untuk perbankan Indonesia masih besar tidak seperti di negara lain, nah itulah yang menjadi kenapa banyak bank asing masuk termasuk bank kita," terang Juru Bicara BI Difi Johansyah ketika ditemui di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (12/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank-bank kita harusnya didomestik bisa saja, karena kesempatan kita semakin besar. Kan keuntungan mengembangkan bank kita sudah cukup besar disini artinya apa? Nggak usah mikir keluar negeri dulu deh di dalam negeri aja keuntungannya sudah besar nanti malah capai menghadapi persaingan di luar negeri," papar Difi.
Sebelumnya memang bank-bank pribumi mendesak BI untuk melakukan dan menerapkan asas resiprokal alias kesetaraan dalam hal ekspansi cabang. BI mengklaim telah melakukan dan membantu bank dalam negeri untuk membuka cabangnya di luar negeri.
"BI itu sudah lama memperjuangkan resiprokal ini artinya akses kepada bank-bank di luar negeri sudah diperjuangkan seperti di Malaysia, Singapura, Amerika, dan China sudah bicara. Cuma masalahnya bank kita mau nggak mengikuti itu, misalnya saja tingkat permodalan yang tinggi, ya kalau bank-bank kita cenderung banyak ekspansi di dalam negeri ya kita kan nggak bisa paksa," tuturnya.
Difi juga menegaskan bank-bank dalam negeri sudah mampu bersaing sendiri oleh karena itu tidak lagi diperlukan insentif apalagi dalam hal pembukaan cabang.
"Bank-bank besar minta insentif? Jangan malu-maluin dong kan mereka sudah besar dan mereka kan punya daya saing sendiri dan mereka tidak perlu minta insentif nanti mau ke skala dunia dia minta insentif juga," terangnya.
(dru/dnl)











































