Pembatasan Kepemilikan Bank untuk Tujuan Jangka Panjang

Pembatasan Kepemilikan Bank untuk Tujuan Jangka Panjang

- detikFinance
Kamis, 08 Sep 2011 18:14 WIB
Pembatasan Kepemilikan Bank untuk Tujuan Jangka Panjang
Jakarta - Pembatasan saham mayoritas bank diarahkan untuk jangka panjang. Bank Indonesia meyakini kebijakan tersebut tidak menimbulkan ketidakpastian bagi investor asing yang akan mengakuisisi bank lokal.

Demikian disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (8/9/2011).

"Pokoknya kita masih terus melakukan kajian. Karena itu arahnya jangka panjang, saya tidak bisa jawab sekarang belum bulat," tegas Darmin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Darmin, aturan tersebut belum ditetapkan saat ini dan seharusnya tidak ada simpang siur saat ini. Bahkan, lanjut Darmin kedepan aturan itu pastinya akan jelas dan tidak akan menimbulkan ketidakpastian.

"Ya nanti kalau sudah keluar kan pasti," katanya.

Darmin menegaskan, hingga saat ini belum ada investor asal Malaysia yang sudah memastikan niatnya mengakuisisi bank lokal. "Ah... Siapa bilang itu? (sudah pasti)," tegasnya.

Darmin sebelumnya mengatakan tengah mengkaji untuk melakukan pembatasan kepemilikan saham mayoritas di sebuah bank. Walaupun masih dikaji, nantinya arah BI yakni kepemilikan mayoritas oleh sebuah instansi, keluarga, maupun perorangan nantinya tidak akan ada lagi.

"Hal ini benar-benar untuk Good Corporate Governance," jelas Darmin beberapa waktu lalu.

Namun BI tetap akan memberikan izin bagi bank-bank asing yang akan melakukan akuisisi pada tahun ini. BI menegaskan tidak akan melarang akuisisi bank-bank lokal oleh asing hingga tahun ini berakhir.

Berkaitan dengan rencana tersebut, sejumlah investor mulai mengkaji rencana ekspansinya di Indonesia. Diantaranya adalah bank-bank asal Malaysia yang kini mulai menjaga jarak dengan Indonesia, sehubungan dengan rencana Bank Indonesia untuk membatasi kepemilikan mayoritas di bank-bank komersial.

Rencana BI tersebut setidaknya telah membuat bank-bank Malaysia mengurungkan niatnya membeli bank-bank di Indonesia. Mereka diantaranya adalah RHB Capital Bhd (RHB Cap) dan Affin Holdings Bhd. RHB Cap sebelumnya berniat untuk membeli PT Bank Mestika Dharma, sementara Affin hendak membeli PT Bank Ina Perdana.

Padahal Indonesia sebelumnya telah menjadi target atraktif dari bank-bank Malaysia karena pertumbuhan penduduknya yang cepat, tingkat pertumbuhan ekonominya yang stabil. Jika memang BI mewujudkan rencananya, analis memperkirakan bank-bank Malaysia akan mencari tempat lain untuk pertumbuhannya.

Saat ini sejumlah bank-bank Malaysia menguasai bank di Indonesia, seperti Malayan Banking Bhd yang menguasai 95% saham PT Bank Internasional Indonesia (BII) dan CIMB Group Holdings Bhd yang menguasai 96% saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. Operasional di Indonesia juga memberikan kontribusi yang cukup besar, seperti CIMB Grup yang mendapatkan 'setoran' laba terbesar dari CIMB Niaga.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads