BI: Pasar Uang Masih Aman dan Stabil

BI: Pasar Uang Masih Aman dan Stabil

Herdaru Purnomo - detikFinance
Senin, 19 Sep 2011 15:36 WIB
BI: Pasar Uang Masih Aman dan Stabil
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memandang adanya sentimen negatif di pasar keuangan global hanya memberikan tekanan yang besar terutama di pasar saham dan pasar obligasi pemerintah. Tetapi bank sentral tidak melihat tekanan di pasar uang domestik yang dinilai masih cukup aman dan likuid.

"Koreksi harga saham terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi. Terbesar di sektor pertambangan, perdagangan dan pertanian," ungkap Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Senin (19/9/2011).

Dijelaskan Perry, koreksi IHSG relatif lebih kecil dibanding rata-rata kawasan Asia, meskipun lebih besar dibanding Malaysia, Filipina dan Cina. Sementara di pasar obligasi, penjualan Surat Berharga Negara (SBN) oleh asing relatif lebih kecil dan mampu dibeli oleh pelaku domestik, khususnya bank.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karenanya, yield SBN tidak mengalami kenaikan signifikan. Dibanding kawasan, yield SBN masih relatif menarik investor asing. Namun, besarnya porsi SBN asing yang lebih bedar dibanding kawasan perlu terus diwaspadai," jelas Perry.

Sedangkan ekses likuiditas di pasar uang domestik masih besar, sehingga sambung Perry dampak krisis global tidak terlihat di pasar uang dalam negeri. Bahkan, tegasnya, suku bunga pasa uang antar bank (PUAB) masih dalam tren menurun.

"Suku bunga perbankan (deposito dan kredit) juga dalan tren menurun, meskipun spread suku bunga masih besar. Penyaluran kredit perbankan juga terus meningkat, dengan pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi yang lebih tinggi," terangnya.

Pertumbuhan kredit perbankan dalam setahun terakhir mencapai Rp 275,6 triliun atau tumbuh 23,5% Juli 2011. Sebagian besar kredit untuk pembiayaan ekonomi produktif. Dibanding periode yang sama tahun lalu, kredit investasi dan kredit modal kerja tumbuh lebih baik, sedangkan kredit konsumsi lebih rendah.

"Dalam setahunan (year on year) pertumbuhan kredit modal kerja mencapai 25,3%, kredit investasi 21,9% dan kredit konsumsi 21,9%," jelas Perry.

(dru/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads