BI Siapkan 3 Langkah Atasi Gejolak Pasar Finansial

BI Siapkan 3 Langkah Atasi Gejolak Pasar Finansial

- detikFinance
Jumat, 23 Sep 2011 08:20 WIB
BI Siapkan 3 Langkah Atasi Gejolak Pasar Finansial
Jakarta - Bank Indonesia (BI) meningkatkan status waspada terkait kejatuhan pasar finansial global akibat meningkatnya kekhawatiran resesi. BI setidaknya telah menyiapkan tiga langkah antisipasi untuk menjaga Indonesia dari tekanan krisis global.

Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, langkah pertama yang dilakukan BI adalah menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu bergejilak.

"Setidaknya ada tiga langkah antisipasi. Pertama, BI akan tetap jaga rupiah," ungkap Perry kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (23/9/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Perry, BI menjaga rupiah melalui intervensi. Kabarnya, BI terus menerus menggelontorkan likuiditas hingga ratusan juta dolar AS, sehingga kemarin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa stabil di posisi 8.750 per dolar AS, atau mendekati asumsi APBNP-2011.

"Intervensi valuta asing dan juga membeli Surat Berharga Negara (SBN). Sehingga kurs rupiah stabil, instrumen moneter dalam bentuk SBN bertambah dan sekaligus dukung pemerintah stabilkan pasar SBN," imbuhnya.

Kedua, lanjut Perry adalah dengan memperkuat protokol manajemen krisis (Crisis Management Protocol) untuk stabilisasi nilai tukar dan perbankan. Juga koordinasi dengan pemerintah untuk stabilisasi pasar

"Ketiga, BI siap menempuh respon suku bunga dan kebijakan moneter dan makroprudensial lain. Untuk mitigasi dampak penurunan ekonomi global ke ekonomi Indonesia," ungkapnya.

Pada perdagangan kemarin, Kamis (22/9/2011), demi menahan penurunan harga surat utang negara (SUN) akibat guncangan di sektor finansial global, BI melakukan pembelian SUN Rp 1,74 triliun.

Perry mengatakan, BI melakukan lelang SUN di pasar sekunder dan meraih penawaran Rp 2,297 triliun, namun yang diambil BI mencapai Rp 1,74 triliun.

Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Rahmat Waluyanto mengatakan, keadaan ekonomi dunia yang makin parah dan ini membuat kekhawatiran investor global makin menjadi.

"Kami terus memantau perekembangan pasar bersama BI dan Bapepam dan siap menerapkan CMP (crisis management protocol)," ujar Rahmat.

(dru/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads