Hal ini disampaikan oleh Marzuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/2/2012).
"Harus di-challenge (ditantang). Direksi yang mampu, yang nggak mampu ganti saja. Mereka kan ahli-ahli perbankan," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemampuan menekan bunga ada di Menteri BUMN. Kalau memang bank belum mampu juga, memang orang Indonesia perlu belajar lagi," tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana perbankan Jepang mampu memberi kredit kepada perusahaan di negaranya dengan bunga 2%. Bunga korporasi ini didapat bagi mereka yang ingin ekspansi usaha, termasuk ke negara Indonesia.
"Jepang saja bisa. Kita nggak bisa kenapa?" imbuhnya.
Marzuki sebelumnya harus mengkritik keberpihakan perbankan BUMN dalam kredit rumah murah program FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Ia merasa heran dengan bank-bank yang sudah untung tinggi tapi tidak memberikan untung bagi rakyat.
"Bank bangga mengatakan untung Rp 50 triliun di akhir tahun. Tapi apa untungnya buat rakyat? Apa efek positifnya?," tutur Marzuki.
(dnl/ang)











































