Bank-bank Malaysia Kena Dampak Negatif Kebijakan DP Tinggi BI

Bank-bank Malaysia Kena Dampak Negatif Kebijakan DP Tinggi BI

Herdaru Purnomo - detikFinance
Rabu, 21 Mar 2012 11:12 WIB
Bank-bank Malaysia Kena Dampak Negatif Kebijakan DP Tinggi BI
Jakarta -

CIMB Group dan Malayan Banking (Maybank) bakal terkena imbas negatif dari kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mematok uang muka (down payment/DP) tinggi bagi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

Pasalnya, kedua bank tersebut mempunyai saham besar di perbankan Indonesia yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) dibawah CIMB Group dengan total kepemilikan 97,9% dan Maybank yang memiliki 97,5% saham PT Bank Internasional Indonesia (BII).

"CIMB Group mendapatkan kontribusi laba besar dengan operasionalnya di Indonesia dimana mencapai 29% dan bakal terpengaruh lebih besar dibandingkan dengan Maybank yang hanya 5%," ungkap riset UOB KayHian, Rabu (21/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketentuan yang efektif berlaku 15 Juni 2012 yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bahwa nasabah bank harus menempatkan uang muka 30% untuk KPR dengan rumah seluas 70 m2 dan sepeda motor 25% serta mobil pribadi 30%.

"Pinjaman yang lebih rendah untuk rasio nilai (Loan to Value/LTV) memang untuk mengurangi kemungkinan bubble (gelembung) kredit di sektor properti dan mobil," tambah UOB KayHian yang dilansir dari TheStar.

Pertumbuhan pembiayaan KPR di Indonesia mencapai 33,1% di Januari 2012 sementar itu KKB mencapai 25,1% di bulan yang sama. CIMB Niaga sendiri pertumbuhan KKB-nya mencapai 9% yang memang tidak begitu agresif dibandingkan industri yang mencapai 20-30%. Tetapi secara keseluruhan bakal terpengaruh.

Sementara itu, DBS Group melihat PT Bank Danamon Tbk (Danamon) yang ternyata bakal terkena dampak lebih besar. Pasalnya 41% KKB Danamon disalurkan melalui anak usahanya Adira Finance.

"Pada dasarnya, KKB akan menghadapi tekanan lebih dari KPR ketika aturan berlaku, mungkin reaksi spontan yang akan ditimbulkan,'' kata Lim Sue Lin dalam laporan DBS Group.

Ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga bakal mengakibatkan penurunan permintaan KKB.

"BI berhati-hati untuk menghindari gelembung di sektor properti dan otomotif dimana pertumbuhan mendekati 30%,'' tambah Lim.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads