Oleh sebab itu seluruh orang yang belum tersentuh dunia perbankan ini harus bergantung kepada para 'rentenir' yang sering membebankan biaya yang tinggi. Orang yang belum tersentuh bank ini akan kesulitan untuk memulai bisnis dan mengasuransikan diri terhadap kejadian tak terduga.
Demikian hasil studi Bank Dunia yang dirilis belum lama ini seperti dikutip detikFinance, Selasa (24/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemampuan untuk menyimpan dan meminjam memungkinkan para 'unbanked' ini untuk membangun aset mereka, memulai bisnis, berinvestasi dalam pendidikan, membuat peringkat kredit, dan akhirnya memiliki rumah.
"Menyediakan jasa keuangan kepada 2,5 miliar orang yang tak memiliki rekening bank bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesempatan untuk mengurangi kemiskinan di dunia," kata Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick.
"Memanfaatkan kekuatan jasa keuangan benar-benar dapat membantu orang untuk membayar sekolah, menabung untuk rumah, atau memulai bisnis kecil yang dapat menyediakan lapangan kerja bagi orang lain. Semakin banyak orang miskin masuk jasa perbankan hari ini, semakin banyak mereka menggunakan jasa perbankan pada masa depan," imbuhnya.
Bank Dunia juga mengungkapkan perempuan sangat kurang beruntung ketika datang untuk akses ke jasa keuangan. Hanya 37% wanita di negara berkembang memiliki rekening, sedangkan 46% pria.
Bagaimana di Indonesia sendiri? Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sekitar 40% dari penduduk Indonesia belum punya akses ke lembaga keuangan formal termasuk ke bank.
Hal ini diakui sendiri oleh Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad yang menjelaskan BI tengah berupaya penuh dalam proses financial inclusion di Indonesia ini.
"Kita ingin sektor keuangan menjadi lebih inklusif dan diperlukan inisiatif untuk menjembatani gap-nya. Gap tersebut bisa karena kurang edukasi bisa karena regulasi juga," tutur Muliaman.
"Dengan semakin inklusifnya sektor keuangan maka akan banyak membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutup Muliaman.
(dru/dnl)











































