Hal ini hampir terjadi pensiunan guru yang kita sebut saja namanya Mamah (63). Nenek 3 cucu ini awalnya ditelepon seseorang yang mengaku bernama Wiriatno dari BKN.
Wiriatno menuturkan kalau Mamah mendapatkan dana asuransi sebesar Rp 50 juta. Dana itu terkumpul setelah Mamah menyisihkan sekitar 3 persen dari gaji bulanan Mamah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pun menghubungi Sugiantoro dan katanya benar saya menerima dana asuransi itu. Dan memang seperti menelepon kantor sungguhan, ada nada tunggu," ujar Mamah kepada detikFinance, Sabtu (28/4/2012).
Sugiantoro menuturkan Mamah hanya mendapatkan Rp 47,5 juta karena dipotong 5 persen atau Rp 2,5 juta untuk biaya administrasi. Sugiantoro mengaku kesulitan mentransfer ke rekening Mamah yang biasa.
Sugiantoro mengatakan lagi uang tersebut sudah cair sehingga kalau tidak segera diambil akan segera hangus. "Ini uang negara lho," ujar Mamah menirukan si pelaku.
"Dari situ saya mulai curiga. Selama ini saya menerima gaji dan segala yang berhubungan dengan uang pensiun ke rekening BRI saya. Kalau mau transfer ya transfer saja," ujarnya.
Makin aneh lagi ketika Sugiantoro meminta Mamah membuat rekening baru yang dilengkapi dengan kartu ATM. Soalnya Mamah selama ini memang anti memakai kartu ATM.
Dari situ Mamah meminta keluarganya mengecek perihal ini ke PT Taspen. Dan akhirnya diketahui kalau itu merupakan aksi tipu.
Tadinya, jika Mamah terperangkap, si pelaku akan meminta Mamah untuk datang ke ATM dan melakukan transfer ke rekening pelaku.
"Wah saya awalnya sudah senang. Uangnya kan bisa buat umroh atau benerin rumah. Tapi alhamdulillah tidak jadi kena tipu," ujarnya.
Jadi hati-hatilah ibu-ibu dan bapak-bapak pensiunan PNS. Modus seperti ini sudah sering terjadi dan bahkan dengan nama pelaku yang sama yakni Sugiantoro dan Wiriatno tadi.
(ddn/ang)











































