Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuannya alias BI Rate di posisi 5,75%. Bank sentral memandang BI Rate masih sesuai dengan sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 10 Mei 2012 memutuskan untuk menahan BI Rate di posisi 5,75%," ungkap Juru Bicara BI, Dody Budi Waluyo dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (12/4/2012).
BI memandang, tekanan inflasi ke depan diprakirakan terkendali, sebagaimana tercermin dari kenaikan harga hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia sampai dengan Minggu ke-2 Mei 2012 yang relatif lebih rendah dari pola historisnya.
Sementara itu, ekspektasi inflasi dinilai masih relatif tinggi dan nilai tukar Rupiah cenderung melemah sebagai akibat ketidakpastian perekonomian global.
"Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga instrumen operasi moneter dan melanjutkan upaya penyerapan kelebihan likuiditas Rupiah untuk mengendalikan tekanan inflasi jangka pendek serta mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah," tutur Dody.
Struktur suku bunga jangka menengah - panjang diperkirakan juga akan meningkat sehingga dapat mendorong daya tarik investasi pada sekuritas domestik. Dengan terus memperkuat langkah-langkah kebijakan moneter dan makroprudensial, serta koordinasi kebijakan dengan Pemerintah baik melalui forum Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia meyakini inflasi tahun 2012 dan 2013 akan berada di dalam sasaran yang ditetapkan, yaitu 4,5% Β± 1%
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(dru/dnl)











































