Megawati Institute: Rencana RI Beri Pinjaman US$ 1 Miliar ke IMF Harus Dipertanyakan

Megawati Institute: Rencana RI Beri Pinjaman US$ 1 Miliar ke IMF Harus Dipertanyakan

Herdaru Purnomo - detikFinance
Selasa, 10 Jul 2012 09:12 WIB
Megawati Institute: Rencana RI Beri Pinjaman US$ 1 Miliar ke IMF Harus Dipertanyakan
Jakarta - Presiden SBY harus berani mengatakan bahwa Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund/IMF) bukanlah solusi dalam proses penyelesaiaan krisis keuangan global. Justru IMF adalah bagian dari problem rusaknya sistem keuangan global saat ini.

Demikian diungkapkan Direktur Megawati Institute, Arif Budimanta ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (10/7/2012).

"Krisis keuangan global yang terjadi sekarang ini bukan diakibatkan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia tetapi lebih diakibatkan oleh hancurnya sistem kapitalisme barat, kerakusan dan ketidakhati-hatian manajemen industri keuangannya seperti Lehman Brothers, NorthernRock, BNP Paribas bangkrut karena salah urus
manajemen," kata Arif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Janganlah kemudian hanya untuk memulihkan sistem finansial yang bertumbu kepada segelintir pemilik modal raksasa dan salah urus sistem perekonomian di beberapa negara barat kemudian negara berkembang dan kita harus turut menanggung beban," imbuh Anggota Komisi XI DPR ini.

Menurutnya jika memang Indonesia ingin bantu negara-negara yang sedang sakit sistem keuangannya, bisa bersifat bilateral dan tidak perlu
melalui IMF. Arif mengatakan cara membantu dengan bilateral malah dapat meningkatkan hubungan baik antar negara dalam jangka panjang.

"Hal ini yang dulu dilakukan oleh Indonesia dengan India dan beberapa negara di Afrika," terangnya.

Dikatakan Arif lebih jauh, syarat pinjaman dari IMF cenderung memperlemah kedaulatan sistem keuangan sebuah bangsa.

"Malaysia adalah contoh negara yang tidak meminta bantuan IMF, tetapi ekonominya terus stabil dan berkembang sampai dengan saat ini. Rencana memberikan pinjaman dan atau membeli obligasi US$ 1 miliar adalah sesuatu yang harus dipertanyakan kemanfaatannya bagi kita," tegas
Arif.

"Kenapa obligasi IMF yang dipilih, kenapa dana US$ 1 miliar itu tidak dibelikan ke SUN (surat utang negara) dalam negeri yang jelas manfaatnya lebih dirasakan oleh kita dan lagi pula SUN kita sampai dengan saat ini masih termasuk yang tertinggi imbal hasilnya di kawasan regional," tutup Arif.

(dru/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads