ADB: Krisis Eropa Ancam Pasar Surat Utang Asia

ADB: Krisis Eropa Ancam Pasar Surat Utang Asia

Herdaru Purnomo - detikFinance
Senin, 10 Sep 2012 10:59 WIB
ADB: Krisis Eropa Ancam Pasar Surat Utang Asia
Manila -

Para pembuat kebijakan di wilayah Asia perlu bersiap diri dari ancaman guncangan dan volatilitas yang akan terjadi dari pasar keuangan global. Laporan Asian Development Bank (ADB) menggarisbawahi pasar obligasi atau surat utang mata uang lokal Asia yang telah mencapai US$ 6 triliun bisa terkena efek negatif dari krisis Eropa.

"Pasar obligasi mata uang lokal kita muncul sebagai alternatif yang aman di tengah krisis yang terjadi, namun kita tidak boleh lengah," kata Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan J Azisyang menerbitkan laporan Asia Bond Monitor dalam siaran persnya, Senin (10/9/2012).

"Pasar yang memiliki volatilitas yang tinggi dapat menghalangi investasi jangka panjang dan mengancam perekonomian dengan menaikkan biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dan perusahaan dalam mengumpulkan dana. Selain itu, reaksi pasar yang tidak menentu terhadap tindakan kebijakan akan merusak prediktibilitas dan efektivitas kebijakan konvensional," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Partisipasi kawasan yang lebih besar di pasar obligasi Asia Timur dan kerjasama yang lebih baik diperlukan untuk mengatasi volatilitas yang berasal dari guncangan eksternal dan memperkuat jaring pengamanan keuangan kawasan.

Bagian khusus dari Asia Bond Monitor yang menganalisa kinerja pasar obligasi lokal dari Republik Rakyat Cina (RRC), Indonesia, Republik Korea, Malaysia, Filipina, dan Thailand menunjukkan bahwa dampak turunan dari runtuhnya Lehman Brothers dan krisis kawasan Eropa yang sedang berlangsung cukup signifikan dan mungkin akan berlanjut.

Dampak permasalahan tersebut tidak hanya dirasakan di pasar obligasi tetapi juga di pasar keuangan lainnya di kawasan ini, termasuk melalui kurs mata uang asing.

"Laporan Asia Bond Monitor mencatat bahwa meskipun ada ketidakpastian dan guncangan di pasar keuangan global, obligasi yang beredar di pasar di kawasan ini terus berkembang, hingga mencapai US$ 5,9 triliun pada akhir Juni, meningkat 1,9% dari akhir Maret dan tumbuh 8,6% dari akhir Juni 2011," jelas Laporan ADB tersebut.

Secara keseluruhan, pertumbuhan pasar obligasi korporasi masih melampaui ekspansi pasar obligasi pemerintah, karena imbal hasil obligasi korporasi yang telah menurun dan pinjaman bank yang semakin ketat telah mendorong perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal.

Pada akhir Juni, terdapat US$ 2 triliun obligasi korporasi yang beredar, 15,2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya, sedangkan US$ 3,9 triliun pasar obligasi pemerintah hanya 5,5% lebih besar.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads