Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) seperti disampaikan Direktur Utama PT Bank BNI Syariah, Dinno Indiano, permintaan KPR per September 2012 berada pada posisi Rp 231,9 triliun atau turun dari posisi pada Juni 2012 Rp 242,5 triliun.
Sedangkan permintaan kredit kendaraan bermotor hingga September 2012 mencapai Rp 103,2 triliun, atau lebih rendah dari posisi Juni 2012 Rp 108,3 triliun. Dinno menilai turunnya permintaan tersebut akibat dari regulasi kenaikan down payment (LTV) menjadi 30% dari Bank Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski demikian, penurunan ini masih dapat dianggap penyesuaian portofolio kedua produk terhadap regulasi baru," tambahnya.
Terlebih realisasi KPR dan KKB hingga triwulan III-2012 sudah melebihi permintaan di tahun 2011. Sebagai catatan permintaan KPR 2011 sebesar Rp 182,6 triliun, dan permintaan KKB 2011 Rp 104,6 triliun.
Secara umum, Dinno menilai penurunan ini tidak terlalu dikhawatirkan. Pasalnya makro ekonomi Indonesia masih terpantai baik, dengan pertumbuhan terjaga di level 6% selain juga terus bertambahnya kelas menengah.
"Masih terdapat ruang bagi pertumbuhan KPR dan KKB pada level yang baru, khususnya untuk KPR. Portofolio KPR diproyeksikan menembus Rp 300 triliun di akhir 2013. Pertumbuhan KKB juga masih memiliki kemungkinan bertumbuh, imbuhnya.
Sebelumnya Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan memang menyebut pertumbuhan kredit pada industri perbankan diprediksi melambat atau sekitar 20% sepanjang tahun 2012. Perlambatan dipicu rendahnya permintaan kredit pertambangan, dan industri terkait juga perlemahan kredit perumahan akibat aturan LTV 30% dari BI.
Lebih lanjut ia menerangkan, pertumbuhan pembiayaan bank tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya akibat beberapa kebijakan yang ditelurkan pemerintah.
(wep/dru)











































