"Selama ini KEN tidak pernah merekomendasikan redenominasi rupiah. Menyebutnya saja susah, apalagi kalau diberlakukan," kata Ketua KEN Chairul Tanjung saat bertemu para pemimpin redaksi di Menara Bank Mega, Jl Tendean, Jakarta Selatan, Minggu (9/12/2012) malam.
Chairul yang didampingi para anggota KEN berdiskusi dengan para pemred terkait prediksi ekonomi 2013. Hadir dalam diskusi para anggota KEN, seperti Aviliani, Raden Pardede, Didik J Rachbini, Sandiaga Uno, Peter Sondakh, James T Riyadi, Hermanto Siregar, Ninasapti Triaswati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan Ishadi SK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi, negara-negara yang melakukan itu biasanya mengalami inflasi lebih dari dua digit. Bahkan ada negara yang melakukannya karena inflasi naik terus berlipat-lipat," kata Raden seraya menyebut beberapa negara, antara lain Brazil.
Di Indonesia, inflasi masih berada satu digit dan tidak mengalami gejolak. Jadi, kata dia, redenominasi rupiah ini tidak tepat bila dilakukan sekarang. Raden yakin tidak akan ada dampak yang signifikan atas pemberlakuan ini.
Pengertian redenominasi sendiri adalah mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1 untuk menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih kecil. Dengan penyederhanaan itu maka hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang dan proses ini tidak merubah daya beli masyarakat.
Terlepas mengenai pandangan negatif KEN, banyak juga pengamat yang menilai redenominasi rupiah merupakan hal yang baik. Langkah pemerintah yang diinisiasikan oleh Bank Indonesia untuk mengangkat 'derajat' rupiah merupakan hal yang membanggakan.
Bagaimana dengan anda? Apakah anda setuju redenominasi rupiah?
(asy/dru)











































