Berdasarkan data dari Tim Ad Hoc beranggotakan DPR, DPRD, Pemda dan Perbankan baik BRI, Bank Mandiri, Bank Bukopin dan bank-bank perkreditan rakyat. Total ada sebanyak 821 debitur.
"Nasabah BRI yang paling banyak dengan jumlah 821 debitur senilai Rp 28,89 miliar," kata Pemimpin Wilayah BRI Yogyakarta, Triyana kepada wartawan dalam acara diskusi di Jl Mangkubumi Yogyakarta, Rabu (20/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah yang sudah mengangsur sampai lunas ada sekitar 300-an nasabah sebesar Rp 16,6 miliar. Dan selama ini BRI sudah tidak pernah melakukan tagihan bagi debitur korban gempa," tegas dia.
Menurutnya untuk melakukan hapus tagih kredit macet korban gempa ini pihaknya masih harus menunggu hasil RUPS. RUPS BRI baru akan dilakukan pada bulan April 2013 atau sekitar 2 bulan lagi.
Secara prinsip lanjut Triyana, yang disetujui untuk dihapus adalah yang disetujui oleh tim Ad Hoc. Dia berharap semua kreditur bersikap jujur dan tidak melakukan perbuatan 'moral hazard' yang meminta keringanan atau hapus tagih utang.
"Jangan sampai melakukan moral hazard. Usahanya masih jalan tidak terpengaruh gempa, bahkan masih terus berdiri sampai saat ini," katanya.
Sementara itu Corporate Secretary PT BRI Tbk (Persero), Muhammad Ali menambahkan untuk hapus tagih tersebut pihaknya tetap akan melakukan proses verifikasi bersama tim ad hoc. Semua debitur yang mengalami kredit macet akan dilihat apakah sudah bermasalah sebelum terjadinya gempa. Kedua mengalami kredit macet setelah gempa. Ketiga, tidak terkena dampak gempa.
"Semua kita kaji. Debitur yang bermasalah akibat gempa langsung dihapus tagih," kata Ali.
(bgs/dru)











































