Angka itu masih jauh lebih rendah dari Cina dan India yang masing-masing telah mencapai 64% dan 35%.
Demikian dikatakan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, di acara konferensi pers The International Financial Inclusion Forum, di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (26/2/13).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga terlihat dari rekening kredit per 1000 penduduk usia dewasa yang baru mencapai 197 di Indonesia, sementara Malaysia 964, dan Thailand 272.
Zulkifli menegaskan Indonesia perlu meningkatkan akses layanan keuangan kepada masyarakat, salah satunya melalui branchless banking. Lebih dari 100 tahun adanya perbankan, nasabah yang dilayani hanya sekitar 60 juta, padahal selama 15 tahun perusahaan telekomunikasi berdiri sudah lebih dari 150 juta memiliki headset.
"Itu perbandingannya. Jadi akses perbankan masih sedikit. Dengan branchless banking kita melihat usaha financial inclusion dari sisi transaksi dan loan akan sulit membuka model bisnis saat ini untuk membuka 20 ribu cabang bank di seluruh Indonesia tidak mungkin mencapai 240 juta penduduk," paparnya.
Dia mencontohkan, Bank Mandiri telah menerapkan program percontohan Branchless Banking di Bali melalui anak usahanya yaitu Bank Sinar Harapan Bali.
Bank tersebut, kata Zulkifli, telah memberikan jasa perbankan kepada para nasabah yang sebelumnya tidak menggunakan jasa perbankan.
Melalui layanan ini, kata dia, Bank Sinar Harapan Bali telah menggaet sekitar 2.500 nasabah hingga akhir 2012. Adapun kredit mikro yang telah disalurkan mencapai Rp 359,7 miliar sepanjang tahun 2012 dengan realisasi kredit ritel yang disalurkan mencapai Rp 275,6 miliar.
"Kami akan terus mengembangkan branchless banking karena program ini sangat bermanfaat bagi pelaku usaha dan ekonomi masyarakat lokal," tandasnya.
(dru/dru)











































