Cetak 7 Miliar Uang, Peruri Masih Impor Kertas

Pabrik Uang di Karawang

Cetak 7 Miliar Uang, Peruri Masih Impor Kertas

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 30 Mei 2013 14:30 WIB
Cetak 7 Miliar Uang, Peruri Masih Impor Kertas
Jakarta -

Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) mampu memproduksi uang kertas hingga 7 miliar bilyet (satuan uang) per tahun. Meskipun mencetak uang dalam jumlah banyak, bahan baku pembuat uang kategori bank note paper (kertas security bahan baku uang) masih diimpor dari beberapa negara seperti Italia, Jerman dan Prancis.

Peruri hanya mencetak serta menyediakan tinta dan desain uang sedangkan bahan baku semuanya dipasok dari Bank Indonesia (BI) melalui proses tender.

“Saya rasa ini kebijakan yang berlaku hari ini. Ini dari BI, kertas (bank note) diadakan oleh BI. Sementara skill, tinta, security, konveksi kertas jadi uang kertas di kita. Ini berdasarkan biaya cetak yang disepakati BI dan Peruri. Itulah domain peruri,” ucap Prasetio di di Pabrik Peruri, Karawang Jawa Barat, Rabu (29/5/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diakuinya, di Indonesia hanya ada satu pabrik kertas swasta yang mampu membuat kertas kategori bank note paper. Namun hanya bisa memproduksi uang untuk pecahan kecil seperti Rp 1.000 dan Rp 5.000.

Peruri sendiri belum mampu membuat kertas bahan baku uang. Prasetio mengaku Peruri sedang menyusun rencana memberdayakan anak usahanya, PT Kertas Padalarang.

Kertas Padalarang nantinya diproyeksikan bisa mencetak kertas kategori high security paper untuk keperluan paspor dan bank note paper serat panjang untuk bahan baku uang kertas. Di samping bisa menghasilkan bahan baku kertas lainnya.

“Kita akan tambah line mesin untuk high security paper dan banknote paper. Anggaran sudah disetujui. Besarannya Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar. Itu multiyears selama 2 tahun. Ini dimulai 2013,” tambahnya.

Jika rencana ini berjalan, BI bisa mengambil kertas dari Peruri kemudian dicetak oleh Peruri. Langkah ini, bisa menghemat anggaran untuk impor dan memberdayakan potensi lokal.

“Tentu kita bisa memberikan penghematan di sisi impor kertas. Kita bisa memberikan substitusi kualitas yang baik. Ini membanggakan bagi negara,” tegasnya.

(hen/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads