Aslim: Pelemahan Rupiah Kemarin Akibat Non Fundamental

Aslim: Pelemahan Rupiah Kemarin Akibat Non Fundamental

- detikFinance
Jumat, 22 Okt 2004 15:13 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Aslim Tadjudin menilai melemahnya rupiah yang terjadi kemarin dipangaruhi faktor non fundamental disamping adanya permintaan dolar AS untuk melunasi hedge bond yang jatuh tempo yang dimiliki beberapa bank.Aslim Tadjudin mengungkapkan hal itu usai sholat jumat di Masjid Bank Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta, Jumat (22/10/2004). "Saya kira rupiah masih stabil bahkan cenderung menguat. Yang penting dilihat saat ini kalau jangka pendek memang dipengaruhi faktor non fundamental macam-macam. Saya lihat rupiah melemah karena lebih banyak adanya permintaan pelunasan hedge bond yang jatuh tempo. Kan hari ini sudah menguat, tadi sudah di level Rp 9.080 per US$ 1," ungkapnya.Sementara dari sisi eksternal khususnya dari faktor regional seharusnya rupiah menguat mengingat mata uang sejumlah negara juga menguat atas dolar AS sehingga dampaknya ke rupiah positf. Mata uang Yen Jepang menguat signifikan ke level 107, dolar Singapura turun di bawah 170 demikian juga dengan Euro yang cukup menguat."Jadi itu memang tanda-tanda dolar sudah melemah dan terlihat dalam jangka pendek faktor non fundamental memang mempengaruhi. Tapi dalam jangka panjang yang mempengaruhi rupiah seharusnya faktor fundamental seperti bagaimana kondisi neraca pembayaran dan neraca perdagangan atau jasa," kata Aslim.Seluruh kondisi itu menurutnya ditentukan oleh indikator lain seperti perdagangan yang dipengaruhi oleh performance ekspor yang ditentukan oleh indikator lain juga yakni inflasi dan suku bunga.Berkaitan dengan pemerintahan baru, Aslim menilai harus ada tujuan yang sama antara kebijakan moneter dengan fiskal. Tantangan pemerintah baru ke depan adalah bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di level 6-7 persen. Dari sisi moneter BI sudah mulai melakukan berbagai cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. "Itu tujuan kita dan sudah sejalan," tegasnya.Selain itu tantangan terbesar lain yang harus dihadapi pemerintahan baru nanti adalah menjaga inflasi agar tetap terkendali. Sementara tantangan dari luar adalah tingginya harga minyak dan rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads