Bisnis Syariah Mendominasi, Ekonomi Malaysia Lebih Kuat Ketimbang RI?

Bisnis Syariah Mendominasi, Ekonomi Malaysia Lebih Kuat Ketimbang RI?

Herdaru Purnomo - detikFinance
Kamis, 29 Agu 2013 10:45 WIB
Bisnis Syariah Mendominasi, Ekonomi Malaysia Lebih Kuat Ketimbang RI?
Jakarta -

Gonjang-ganjing di pasar bursa hingga gejolak nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi membuat was-was industri perbankan tanah air. Gosip seputar kekeringan likuiditas kini menghantui bisnis bank di Indonesia.

Alhasil, demi mengejar likuiditas semata perbankan mendesak Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan bunga acuannya yang jika ditarik sebuah benang merah akan mengakibatkan bunga kredit melambung. Hal ini tak akan terjadi bila Indonesia mengembangkan penuh industri keuangan berbasis syariah.

Sistem ekonomi syariah dinilai sebagai sistem ekonomi yang aman di tengah kondisi gejolak perekonomian global yang terjadi saat ini, karena ketahanan sistem ekonomi syariah teruji paling tahan menahan imbas krisis. Salah satunya Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara tetangga Indonesia tersebut tidak pernah mengalami kepanikan ketika nilai tukarnya jeblok. Apalagi mendengar industri perbankannya krisis. Itu semua karena dukungan pemerintahnya.

"Secara sepintas, kita dapat lihat reputasi perbankan syariah Malaysia setidaknya didukung oleh dua hal," ungkap Peneliti dan pengajar Financial Public Relations dan International Public Relations di Taylor's University, School of Communication, Rizky Wisnoentoro kepada detikFinance, Kamis (29/8/2013).

Pengajar Manajemen Perbankan Syariah UI ini menyebut, dua hal tersebut menjadi kunci Malaysia bisa berkembang. "Pertama dari sisi financial performance bank-nya sendiri yang cukup baik. Dan kedua, Malaysia didukung penuh oleh pemerintahnya. Kebijakan pemerintah yang mendorong perbankan syariah membuat negara tersebut kuat di sisi ekonomi syariah," ungkap Rizky.

Bagaimana di Indonesia? Bank syariah muncul dari grassroots, dan relatif memiliki akar yang solid ke bawah. Dukungan dari infrastruktur sosio-economic di tataran middle low seperti jaringan Baitul Maal Wattamwil (BMT), Lembaga Amil Zakat, ataupun Unit Pengelola Zakat sepertinya sudah solid. Namun memang kurang niatan penuh dari pemerintah.

"Saya lihat pemerintah Indonesia sudah mulai mengindikasikan sinyal positif untuk memberi ruang bagi bank syariah, terutama dengan pemindahan dana haji ke syariah. Ini sebetulnya berpotensi untuk memperkuat reputasi perbankan syariah ke depan," tuturnya.

"Selanjutnya tinggal bergantung dari visi kepemimpinan nasional, apakah perbankan syariah di Indonesia akan dijadikan seperti kayu jati yang kokoh dan menjulang atau seperti bambu yang justru kuat karena hidup berumpun," imbuh Rizky.

Sistem perbankan syariah menunjukkan perbedaan utama dalam prinsip-prinsipnya dari sistem konvensional. Apabila sistem konvensional didasarkan pada utang, sedangkan syariah sesuai dengan syariat. Didasarkan pada prinsip moral keadilan dan risk sharing, dan menerapkan pelarangan bunga.

Model perbankan ini tampaknya lebih tahan terhadap krisis dan tidak terlalu goyah dari pada sistem perbankan klasik barat.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads