Menteri Keuangan Chatib Basri menilai rencana tersebut memang belum bisa dilakukan saat ini. Apalagi masih ada risiko dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kemudian ada persoalan inflasi yang diperkirakan akan mencapai 9%. Hal ini terjadi akibat dari kenaikan harga bahan pokok yang salah satunya bersumber dari kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Juni lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun depan kondisi nilai tukar rupiah masih penuh kewaspadaan. Apalagi mengingat adanya rencana penarikan stimulus oleh Bank Sentral AS The Fed. Dalam batas aman, pada asumsi makro ekonomi, rupiah dipatok 10.500/US$.
Dengan segala risiko tersebut, Chatib tidak mau mengambil risiko untuk memulai agenda redenominasi secara mendadak. Harus ada pemantauan yang komperhensif meliputi kondisi perekonomian.
"Tidak bisa sekaligus karen nanti ada risiko enchange rate yang masih muncul. Ini pelan-pelan akan digunakan," jawabnya.
Redenominasi merupakan penyederhanaan mata uang rupiah. Redenominasi nantinya akan mengubah Rp 1.000 menjadi Rp 1 jika penyederhanaan ini 'memangkas' 3 angka nol dalam rupiah.
(mkj/dru)











































