Apakah bank sentral bakal menaikkan BI Rate lagi?
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengaku masih akan melihat perkembangan fundamental ekonomi. Terutama untuk inflasi dan CAD. Inflasi diperkirakan akan berada sekitar 9% dan CAD saat ini masih cukup tinggi pada kisaran 3,8%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, Ia juga berharap ada kebijakan penunjang di sektor riil. Terutama untuk menanggulangi impor yang masih tinggi. Seperti pada sektor minyak dan gas bumi, kemudian asuransi dan yang lainnya.
"Karena impor minyak harus ada kebijakan dieversifikan energi. Ada defisit di sektor asuransi yang dibayar ke luar negeri itu premi dibayar ke sana, jadi ada kebijakan penguatan perusahan reasuransi di dalam negeri," terangnya.
BI juga meminta pemerintah untuk membuat kebijakan yang dapat mendukung masuknya turis ke dalam negeri. Tujuannya adalah agar bertambahnya cadangan devisa negara yang beberapa waktu lalu turun drastis.
"Harus ada kebijakan untuk menarik turis ke dalam negeri, untuk ke Indonesia, karena itu akan menarik devisa, kalau turis masuk ke Indonesia itu bisa meningkat secara signifikan, maka defisit dari transaksi berjalan itu, akan turun. Kalau turis yang masuk ke Indonesia bisa seperti yang masuk ke Malaysia, dan Thailand itu akan lebih bagus," paparnya.
Ia mengakui, perbankan akan terkena dampak dari kenaikan suku bunga. Namun, BI akan tetap memperhatikan kesehatan perbankan. Bank pun menurut Mirza juga harus mendukung kebijakan BI dengan menurunkan pertumbuhan kredit.
"Makanya bank juga harus bisa mengendalikan kreditnya, kalau tetap genjot kredit di atas pendanaan dia bisa jadi masalah. Tidak mungkin BI sebagai otoritas moneter akan buat kebijakan yang merugikan bagi situasi perbankan dan ekonomi makro," pungkasnya.
(mkl/dru)











































