Miranda: Rupiah Masih Berpotensi Menguat
Selasa, 23 Nov 2004 16:29 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom yakin nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat dalam beberapa waktu ke depan seiring melemahnya dolar AS terhadap seluruh mata uang di dunia. "Secara umum saya tidak melihat alasan kita harus khawatir. Rupiah akan stabil bahkan beberapa tahun ke depan menuju ke arah penguatan. Demikian juga dengan interest diferensial yang semakin lama semakin tipis," tegas Miranda disela acara pertemuan gubernur dan walikota se-Asia (AMNC) di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (23/11/2004).Dijelaskan Miranda, jika dilihat dari hari ke hari pergerakan dolar AS bisa menguat dan melemah. Namun yang terpenting dari semua itu adalah Bank Indonesia melihat secara rata-rata arahnya kemana. "Kalau kita lihat khususnya terhadap rupiah karena kita free floating exchange rate tentunya ada kumungkinan suatu hari melemah dan ada kemungkinan lagi menguat. Tetapi sepanjang yang saya perhatikan selama beberapa waktu bahkan selama satu tahun ini tidak pernah terjadi suatu pelemahan yang tidak bisa diterangkan. Itu yang penting bahwa semua bisa di-explain," katanya.Apakah hal itu bisa diterangkan oleh faktor eksternal seperti pernyataan Allan Greenspan atau current defisit AS yang pasti tidak ada yang tidak bisa diterangkan. "Jadi bagi saya seperti misalnya suatu waktu rupiah melemah mungkin saja waktu itu persis permintaannya banyak seperti permintaan dari berbagai pihak atas dolar AS dan suplai agak kurang, itu selama bisa di-explain tidak masalah. Yang jadi masalah kalau kita tidak tahu sebabnya kenapa," terangnya.Oleh karena itu arah pergerakan dolar AS terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari pengamatan pergerakan dolar AS atas mata uang lainnya meski pergerakannya tidak sama persis dalam bentuk angka. Yang pasti arahnya tetap sama. "Bahwa besarannya tidak sama misalnya kita 0,5 persen atau 1 persen dan sebagainya itu adalah faktor lain yang spesifik terhadap nagara-negara tertentu. Tapi secara umum saya tidak melihat alasan kenapa harus khawatir," tegasnya.Ketika disinggung pengaruh terhadap suku bunga, Miranda mengaku belum melihat adanya faktor yang negatif karena saat ini interest rate diferensial masih cukup menarik sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali Bank Indonesia masih tetap mengawasi pergerakan suku bunga AS, bagaimana kebijakan AS, bagaimana respon regional dan dari dalam negeri sendiri mengamati tekanan inflasi ada atau tidak.Faktor pembayaran utang luar negeri bisa mempengaruhi rupiah, menurutnya sudah dihitung dalam balance of payment sehingga tidak ada tekanan yang besar. Apalagi saat ini posisi cadangan devisa Indonesia masih cukup besar di angka US$ 35 miliar.
(san/)











































