Terbukti dengan merger yang melibatkan 3 bank Malaysia, yakni CIMB, RHB Capital, dan Malaysia Building Society. Bank sentral Malaysia telah memberikan lampu hijau. Aksi korporasi ini akan menjadikan CIMB memiliki aset 641 miliar ringgit atau sekitar Rp 2.300 triliun.
Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menilai, kondisi ini membuat perbankan nasional ketinggalan 2 langkah dari negeri jiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sigit menilai, dalam jangka pendek mega merger yang melibatkan 3 bank Malaysia itu tidak berpengaruh signifikan terhadap Indonesia. Namun dalam jangka panjang, hal tersebut mendukung pertumbuhan non organik.
“Merger dalam dunia perbankan adalah pilihan rasional. Regulator memberikan insentif bagi yang melakukan konsolidasi. Sejak dulu Malaysia konsisten mengurangi jumlah bank mereka. Inilah salah satu strategi mereka menghadapi pasar bebas ASEAN," katanya.
Oleh karena itu, Sigit menegaskan konsolidasi perbankan harus menjadi perhatian ke depan. Dimulai dengan membuat cetak biru industri perbankan dan melaksanakan konsolidasi secara sistematis. Sebab, kebutuhannya sudah mendesak.
Cetak biru itu akan mengikat seluruh pemangku kepentingan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan legislator di Senayan. Ketika seluruh pihak dilibatkan, kebijakan tak perlu berganti ketika terjadi transisi pemerintahan.
"Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sudah di depan mata, kita harus segera melakukan konsolidasi perbankan. Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia saja sekarang baru masuk urutan ke-8 di ASEAN," ujar Sigit.
(mkl/hds)











































