Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan, selama kepemimpinannya, cadangan devisa negara pernah mencetak rekor tertinggi mencapai US$ 124 miliar-US$ 126 miliar.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjo mengatakan, pencapaian cadangan devisa US$ 124 miliar di 2011.
"Hal tersebut karena meningkatnya penerimaan negara dari hasil minyak yang baik sekali pada saat itu," ucap Agus usai Pidato Kenegaraan Presiden SBY di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun untuk dapat meningkatkan cadangan devisa negara kembali, saat ini harus ada perbaikan transaksi berjalan dan neraca perdagangan negara. Jika itu bisa dilakukan maka akan membuat ekonomi lebih sehat dan secara otomatis akan membuat cadangan devisa negara meningkat," tutupnya.
Saat ini, cadangan devisa Indonesia turun menjadi sekitar US$ 110 miliar. Untuk mencapai titik tertinggi cadangan devisa lagi, Agus Marto punya saran.
"Jangan berhenti melakukan reformasi struktural perdagangan kita. Saat ini kita masih menghitung transaksi berjalan dari barang dan jasa serta keuangan menjadi satu," kata Agus.
Menurut Agus, ke depannya harus ada perbaikan pada berbagai sektor, baik itu perdagangan barang atau jasa.
"Sehingga ekspornya jauh lebih baik dibandingkan dengan impor. Sementara potensi di sektor ini sangat baik, kalau ekspornya bisa didorong lagi, maka akan berdampak pada peningkatan cadangan devisa lebih tinggi lagi," katanya.
Namun kata Agus, untuk dapat mencapai itu, tergantung pada presiden dan pemerintah yang akan datang.
"Tergantung pemerintah, bagaimana bisa mengarahkan Pemda untuk meningkatkan daya saing, dapat meningkatkan nilai tambah, dapat membuka pasar-pasar baru di luar negeri, pasti akan terjadi surplus di perdagangan barang dan jasa kita sehingga ekonomi Indonesia makin kuat secara fundamental," tutupnya. (rrd/dnl)











































