Pendiri 'Bank' Petani yang Tak Lulus SD Ini Usul Ada Gerakan Kurangi Makan Nasi

Pendiri 'Bank' Petani yang Tak Lulus SD Ini Usul Ada Gerakan Kurangi Makan Nasi

- detikFinance
Jumat, 19 Sep 2014 17:42 WIB
Pendiri Bank Petani yang Tak Lulus SD Ini Usul Ada Gerakan Kurangi Makan Nasi
Jakarta - Masalah kedaulatan pangan belakangan ini menjadi isu yang 'seksi' dibahas. Namun untuk mencapai kedaulatan butuh swasembada pangan.

Namun kenyataannya Indonesia masih harus impor berbagai jenis pangan termasuk beras. Produksi beras yang tak meningkat signifikan namun konsumsinya terus naik karena bertambahnya penduduk, menjadi penyebabnya.

Masril Koto, Pendiri Bank Petani di Sumatera Barat sejak 2008 ini punya gagasan agar Indonesia bisa mencapai swasembada pangan beras. Caranya adalah mendidik masyarakat untuk mengurangi konsumsi nasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau bisa menggerakkan orang Indonesia sebelum makan nasi, makan pisang, maka konsumsi beras itu akan berkurang dan bisa swasembada," ujarnya di Swiss Belhotel, Jakarta, Jumat (19/9/2014)

Menurutnya, konsumsi beras masyarakat Indonesia sudah sangat berlebihan. Sehingga dengan lahan yang tersedia, tidak cukup bisa mendorong produksi beras dengan signifikan.

"Sekarang sulit kalau mau dorong produksi, harus konsumsinya dikurangi," kata Masril yang hanya mengenyam kelas 4 SD ini.

Hal tersebut sudah pernah dipraktikan untuk masyarakat Solok, Sumatera Barat. Masril menuturkan angka konsumsi beras bisa turun sampai dengan 20% dengan cara ini.

"Pernah dicoba di Solok dan itu benar bisa turun," terangnya.

Selain itu, dalam mencapai swasembada, pemerintah harus dapat hadir memotivasi petani di lapangan, bukan pelatihan-pelatihan teoritis. Menurutnya masalah bagi petani soal kepercayaan diri.

"Jangan didikte petani itu, mereka itu tidak bodoh. Tapi mereka hanya kurang percaya diri," kata Masril.

Kemudian terapkan ilmu sesuai dengan kondisi lahan petani. Menurutnya seringkali pemerintah melalui dinas pemerintah daerah memaksakan menanamkan bibit yang tidak sesuai lahan.

"Kalau emang itu lahan padi, jangan dipaksakan jagung-jagung aneh. Biarkan lah padi," pungkasnya.

(mkl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads