Ini Cara Pemerintah Atasi 'Perang' Suku Bunga

Ini Cara Pemerintah Atasi 'Perang' Suku Bunga

- detikFinance
Rabu, 01 Okt 2014 13:58 WIB
Ini Cara Pemerintah Atasi Perang Suku Bunga
Chatib Basri, Menteri Keuangan
Jakarta - Indonesia perlu mewaspadai kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) oleh bank sentral The Federal Reserves/The Fed. Ini akan menyebabkan aliran dana akan mengarah ke Negeri Paman Sam, sehingga likuiditas di dalam negeri semakin ketat.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Chatib Basri di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, Rabu (1/10/2014).

"Dengan normalisasi kebijakan AS, di mana The Fed akan menaikkan lebih awal tingkat suku bunganya pada semester I-2014, maka kita bisa duga likuiditas akan menjadi lebih ketat," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Chatib menjelaskan, dengan pengetatan likuiditas akan memberikan imbas terhadap pasar keuangan Indonesia. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Semakin banyak dana keluar, posisi dolar AS akan semakin kuat dan sebaliknya bagi rupiah.

"Dalam 3 bulan terakhir saya selalu membicarakan ini. Indonesia harus bersiap dengan periode baru di mana The Fed akan menaikkan suku bunga mungkin lebih cepat. Ini akan menyebabkan turbulance di pasar keuangan dan tekanan terhadap rupiah," paparnya.

Chatib mengaku tidak begitu terkejut dengan fluktuasi nilai tukar rupiah. Gejolak ini sudah diprediksi dari awal.

Berdasarkan data Reuters, saat ini rupiah diperdagangkan di posisi Rp 12.185 per dolar AS. Menguat dibandingkan kemarin yang sempat menembus level Rp 12.200 per dolar AS.

"Saya tidak terlalu terkejut seminggu terakhir rupiah sempat Rp 12.200 per dolar AS. Itu sebabnya sejak awal kami sudah menaruh asumsi rupiah Rp 11.900, kita antisipasi sejak Maret. Sekarang walaupun mengarah ke Rp 12.000, tapi saya tidak melihat kekhawatiran di pasar," jelas Chatib.

Meski begitu, Chatib menegaskan bahwa pemerintah dan otoritas terkait seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap perlu melakukan antisipasi agar guncangan di pasar bisa diredam. Chatib juga berpesan bahwa ketatnya likuiditas jangan sampai memicu 'perang' suku bunga perbankan demi menggaet nasabah.

Pemerintah juga akan berupaya meredam 'perang' suku bunga perbankan dengan mengurangi kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) alias obligasi negara. Jika penerbitan SBN berkurang, maka akan mengurangi kompetisi untuk memperebutkan dana masyarakat.

"BI dan OJK mengatasi persaingan bunga. Jangan sampai ada trade off dengan kebutuhan likuiditas perbankan. Langkah pertama menurunkan kebutuhan SBN, kenapa penting? Kalau SBN lebih kecil maka crowding out bisa di-handle. Ini langkah yang harus dilakukan agar makro terjaga," terang Chatib.

(drk/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads