Tantangan Jokowi-JK

Masih Banyak Masyarakat Indonesia Buta Keuangan

- detikFinance
Rabu, 22 Okt 2014 07:14 WIB
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan tingkat literasi keuangan atau akses masyarakat terhadap industri keuangan di Indonesia masih minim. Terkait hal ini pihaknya meluncurkan Cetak Biru Strategi Nasional Literasi Keuangan dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat agar 'melek' terhadap industri keuangan.

Lalu, apa saja cara OJK untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat soal industri keuangan ini?

"Kenyataannya ada berbagai kerentangan sektor keuangan faktor dari sifat fundamental dan rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat kita," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad saat acara Peluncuran Cetak Biru Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia, akhir tahun lalu.

Muliaman menyebutkan, dari hasil survei di 27 provinsi di Indonesia, sedikitnya 8.000 responden menggambarkan tingkat literasi keuangan. Berdasarkan hasil survei, sektor perbankan merupakan pangsa pasar terbesar di sektor keuangan.

Dia merinci, di sektor asuransi 18 orang per 100 orang yang paham, 12 persen yang betul-betul memanfaatkan jasa asuransi, pegadaian 500 orang sudah memahami pegadaian, tapi pemanfaatannya baru 5 persen, 10 orang paham multifinance, dengan tingkat pemanfaatan 6 persen, 7 persen mengerti dana pensiun, pemanfaatan 2 persen, 2 persen pasar modal dengan pemanfaatan kuarang dari 1 persen.

"Memperhatikan hasil survei, upaya peningkatan literasi sangat penting, peningkatan pemahaman, langkah awal, bagi perluasan akses, peningkatakan kualitas produk keuangan untuk kesejahteraan," ujarnya.

Muliaman menjelaskan, pemerintah melalui program inklusif, memperluas akses masyarakat produk dan jasa keuangan untuk mendukung literasi keuangan sebagai prioritas

"Perlu keseimbangan untuk tegakkan prinsip kehati-hatian, dan perlindungan konsumen, khususnya dalam bentuk edukasi atas karakteristik sektor keuangan dirumuskan dalam cetak biru literasi keuangan Indonesia," kata dia.

Muliaman menyebutkan, dalam pelaksanaan ada 3 pilar utama:

  • Edukasi dan kampanye literasi: ibu RT, calon dan tenaga kerja Indonesia, pelajar, mahasiswa, majelis taklim, pesantren, UMKM
  • Penguatan infrastruktur: survei reguler, layanan terintegrasi pengaduan dan informasi. OJK juga siapkan situs/website, serta siapkan mobil keuangan (SIMON) yang akan beroperasi di Indonesia dan daerah yang sulit mendapat akses informasi
  • Pengembangan produk dan layanan jasa keuangan: mengembangkan produk dan jasa keuangan terjangkau masyarakat dan pemberdayaan.


"Program edukasi menyentuh seluruh sektor keuangan, termasuk syariah, faktor penting sektor keuangan nasional. GRES! sejalan dengan itu, peningkatan pemahaman syariah, OJK punya kesempatan untuk bangun sinergi luas, supaya syariah berkembang," terangnya.

Dia menambahkan, bersama asosiasi, industri jasa keuangan, lewat berbagai kegiatan lembaga jasa keuangan minimal 1 kegiatan edukasi dalam setahun untuk meningkatakan edukasi wajib disusun program kerja tahunan dan dilaporkan ke OJK.

"2.600 lembaga jasa keuangan, berkomitmen melakukan kegiatan litreasi keuangan, sekurang-kurangnya dalam setahun untuk jangkau seluruh lapisan masyarakat," tutupnya.

(drk/ang)