Darmin: Saham BRI Harus Didorong Kembali ke Investor Lokal
Selasa, 25 Jan 2005 11:03 WIB
Jakarta - Dirjen Lembaga Keuangan Depkeu Darmin Nasution meminta semua pihak bisa mendorong agar kepemilikan saham BRI kembali ke tangan investor lokal demi kepentingan publik dan nasabah UMKM. "Mengingat kepentingan publik dan nasabah UMKM, sebaiknya hasil BRI lebih dinikmati oleh investor lokal. Makanya semua pihak harus mendorong agar kepemilikan saham BRI dapat bergeser kepada investor lokal," kata Darmin.Darmin menyatakan hal itu saat menjadi pembicara kunci saat membahas buku, Bank BRI keluar dari Krisis: dari restrukturisasi sampai IPO di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (25/1/2005).Darmin menjelaskan, pada saaat BRI IPO pada 10 Nopember 2003, komposisi pemegang saham menjadi, pemerintah 59,5 persen, investor asing 22,3 persen dan investor lokal 18,2 persen. Namun kepemilikan asing terus meningkat dimana per 30 Juni 2004 mencapai 34,1 persen dan investor lokal justru turun menjadi 6,4 persen. Menurutnya, BRI saat ini telah membuktikan bahwa dengan fokus pada segmen UMKM, telah mampu menjadikan BRI sebagai bank yang sehat dan keluar dari krisis. Sedangkan untuk menjadi bank nasional yang menggarap segala segmen bisnis memerlukan suatu pemikiran yang mendalam. "Perlu ditekankan bahwa ke depan BRI harus dapat menjaga kinerja, profesionalitas dan tidak meninggalkan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan," ujarnya.Dalam pandangan Darmin, manajemen Bank BRI perlu meningkatkan daya saingnya terhadap bank lain mengingat BRI berhasil melampaui tantangan persaingan bisnis dengan bank lain karena saat ini persaingan pada segmen UMKM masih rendah. Padahal ke depan, diproyeksikan persaingan sektor UMKM akan sangat ketat yang memungkinkan penurunan margin BRI. Dengan adanya kemungkinan penurunan marjin, menurut Darmin BRI harus siap melakukan efisiensi biaya operasional, meningkatkan pemakaian teknologi informasi dan kontrol biaya. Di tempat yang sama, Direktur Pengelolaan kredit BRI Gayatri Rawit Angreni juga menyebutkan bahwa dengan fokus pada UMKM, kinerja BRI terus menunjukkan perbaikan yang dapat dilihat dari berbagai indikator utama seperti profit yang pada tahun 2000 hanya mencapai Rp 0,34 triliun, pada September 2004 mampu mencapai Rp 2,7 triliun. Ekuitas meningkat dari Rp 4,1 triliun pada 2000 menjadi Rp 11,7 triliun pada September 2004. Demikian juga dana pihak ketiga meningkat dari Rp 49,2 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 78,57 triliun. CAR meningkat dari 14,4 persen menjadi 19,65 persen, LDR meningkat dari 54,9 persen menjadi 74,3 persen dan NPL dari 4,96 persen pada 2000 menjadi 5,75 persen pada 2004.
(qom/)











































