Wacana terbaru adalah merger antara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Apakah setelah merger dua bank raksasa ini bisa bersaing dengan bank terbesar ASEAN?
Jika melihat dari kapitalisasi pasarnya, melihat data triwulan III-2014, bank terbesar di ASEAN adalah DBS dari Singapura dengan market cap sebesar US$ 35,73 miliar. Dua posisi di bawahnya juga masih bank dari Singapura, yaitu OCBC sebesar US$ 30,8 miliar dan UOB senilai US$ 28,96 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber detikFinance di lingkungan pemerintahan mengungkapkan, wacana merger dua bank tersebut tak terlepas dari ambisi pemerintah untuk unjuk gigi di ajang MEA pada 2020 nanti. Posisi Indonesia sebagai negara besar di jajaran ASEAN akan jadi perhatian sehingga pemerintah merasa Indonesia harus punya bank besar.
"Ini lebih ke politik luar negeri Indonesia. Pemerintah ingin menyampaikan bahwa Indonesia juga bisa punya bank besar, ini soal gengsi," ungkap sumber tersebut kepada detikFinance, Kamis (5/2/2015).
Apalagi, kata dia, kedua bank tersebut sama-sama sehat dan merupakan pemain besar di dalam negeri. "Jadi, tidak ada yang mendesak," ucap dia.
Pada akhirnya, semua keputusan ada di tangan pemerintah selaku pemegang saham. "Merger atau tidak kembali ke pemerintah. Tapi kalau Menkeu sendiri sudah ngomong, artinya itu ada sinyal, akan ke sana," katanya.
Dari sisi bisnis, pangsa pasar di Indonesia jauh lebih besar dan dinilai lebih menguntungkan dibanding negara-negara di ASEAN.
Jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 240 juta penduduk, sementara Singapura hanya sekitar 6 juta, bahkan lebih kecil dari Jakarta yang mencapai 10 juta penduduk.
Itulah mengapa Pemerintah sedikit khawatir bank-bank asing ini akan menyerbu masuk dan menyantap pangsa pasar perbankan di tanah air yang selama ini dikuasai perbankan domestik.
"Ini pasar yang empuk," ujarnya.
Secara terpisah, Direktur Keuangan BNI Yap Tjay Soen mengatakan, tingginya kapitalisasi pasar bank-bank asing itu adalah akibat nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Akibatnya, kapitalisasi pasar bank asing terlihat besar dan bank dalam negeri menjadi lebih kecil.
"Kalau hanya mengejar kapitalisasi pasar dan aset itu susah, nanti bagaimana kalau dolar sampai Rp 15.000? Apakah harus ada bank yang merger lagi," kata Yap ditemui di Jakarta kemarin.
(ang/dnl)











































