Atasi Inflasi, BI Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga
Kamis, 03 Feb 2005 15:13 WIB
Jakarta - Bank Indonesia tengah mempertimbangkan kenaikan tingkat suku bunga SBI dalam rangka menekan angka inflasi pada Januari lalu tercatat cukup besar akibat besarnya ekspektasi kenaikan harga BBM.Demikian Gubernur BI Burhanuddin Abdullah usai pembukaan Rapimnas Kadin di Istana Negara, Jakarta, Kamis (3/2/2005).Bank Indonesia sendiri tercatat tidak mengubah tingkat diskonto SBI satu bulannya yakni di kisaran 7,42 persen. Hasil lelang Rabu (2/2/2005) kemarin berarti tidak menunjukkan perubahan dibandingkan lelang sebelumnya. Burhanuddin menjelaskan, BI saat ini tengah berupaya menjaga stabilitas makro terkait data dari BPS yang menyebutkan angka inflasi sebesar 1,43 persen pada Januari ini yang dinilai sebagai angka inflasi yang cukup tinggi. "Untuk bulan Januari saja sudah mencapai 1,43 persen dalam 1 bulan. Ini lebih tinggi dari bulan-bulan januari yang lainnya selama 4 tahun terakhir. Jadi ini satu hal yang harus diperhatikan," tegasnya.Ia mengakui, setidaknya ada sejumlah faktor yang memicu kenaikan inflasi tersebut yakni faktor psikologi konsumen atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM. "Sosialiasi yang dilakukan oleh Pemerintah ini memicu, saya kira ekspektasi masyarakat terhadap inflasi yang lebih tinggi," tuturnya.Faktor lainnya yang memicu tingginya inflasi adalah sejumlah bencana seperti tsunami di Aceh yang mempengaruhi sisi duplai dan juga harga. "Faktor dari sisi demand tidak terlalu di depan. Tapi BI menyadari bahwa ke depan mengarahkan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu ke depan. Apalagi kalau kita lihat suku bunga The Fed sudah naik jadi 2,5 persen. Jadi ini faktor eksternal," katanya.Untuk menangani tingginya inflasi itu, menurut Burhanuddin, BI mulai pertengahan tahun 2005 ini akan mengubah kebijakannya dimana suku bunga nantinya akan menjadi faktor utama pertimbangan kebijakan BI. "Sampai bulan januari sampai sekarang faktornya kuantitatif jadi base money. Jadi ada dua hal yakni pertama, penyerapan based money harus sedemikian kuat, kedua, suku bunga kita perhatikan dan tidak akan ragu-ragu akan kita naikan lagi suku bunga. Nanti pasar akan menentukan berapa persen besarannya," paparnya.Ditegaskan Burhanuddin, meski angka inflasi Januari cukup tinggi, Bank Indonesia tidak akan merevisi target inflasi yang sudah disepakatinya dengan pemerintah yakni 6 persen plus minus 1 persen. "Sekarang masih 7,32 persen. Itu ekspektasi dalam satu tahun. Tapi ini baru bulan pertama 2005," ujarnya.Menurut Burhanuddin, tingginya inflasi pada Bulan Januari adalah wajar dengan melihat angka statistik tahun-tahun sebelumnya. "Januari di masa lalu selalu lebih tinggi dari bulan-bulan lainnya. Ini berdasar pengalaman selama empat tahun terakhir ini," demikian Burhanuddin.
(qom/)











































